//
selamat membaca...
Catatan Syabab

​Iman Sebagian, Ingkar Sebagian: Kafir yang Sebenar-benarnya

​Iman Sebagian, Ingkar Sebagian:
Kafir yang Sebenar-benarnya

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (151)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (TQS al-Nisa’ [4]: 150-151).”

Antara Mukmin dan kafir sesungguhnya terdapat garis pemisah yang jelas. Garis batas itu adalah aqidah Islam. Siapa pun yang mengimaninya, tergolong sebagai Mukmin. Sebaliknya, siapa pun yang mengingkarinya, terkatagori sebagai kafir.

Kendati demikian, masih ada orang yang ingin mencoba mengambil jalan tengah antara iman dengan kufur. Caranya, dengan beriman terhadap sebagian perkara aqidah dan ingkar terhadap sebagian lainnya. 

Bagaimana kedudukan orang seperti ini? Dengan gamblang ayat di atas memberikan jawabannya.

Mengaku Iman Sebagian, Ingkar Sebagian

Allah Swt berfirman: 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya.”

Menurut sebagian besar mufassir –seperti Ibnu Jarir al-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Fakhruddin al-Razi, al-Syaukani, dll– ayat ini turun berkenaan dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Kaum Yahudi mengaku beriman kepada Nabi Musa as dan Taurat, namun mengingkari Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw.

Sedangkan kaum Nasrani mengaku beriman kepada Nabi Musa asa dan Nabi Isa as, namun mengingkari Nabi Muhammad saw. Kendati mengaku beriman kepada Allah Swt dan sebagian rasul-Nya, mereka semua dinyatakan ayat ini sebagai orang-orang yang kafir kepada Allah Swt dan rasul-rasul-Nya

Perihal kekufuran mereka itu dijelaskan lebih lanjut dalam frasa sesudahnya: 

وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ 

“Dan bermaksud memperbedakan antara [keimanan kepada] Allah dan rasul-rasul-Nya.”

Sikap _tafrîq_ (memperbedakan) antara Allah Swt dan rasul-rasul-Nya itu dalam perkara aqidah. Sehingga, sebagaimana dipaparkan al-Alusi, maksud frasa ini adalah mereka mengaku beriman kepada Allah Swt, namun ingkar kepada sebagian rasul-Nya. Inilah bentuk _tafrîq_ (memperbedakan) antara Allah dengan rasul-rasul-Nya.

Ditegaskan juga oleh Imam al-Qurthubi, bahwa yang dimaksud dengan al-tafrîq (memperbedakan) di sini adalah memperbedakan keimanan antara Allah Swt dengan para rasul-Nya. Allah Swt telah menetapkan bahwa memperbedakan antara Allah Swt dengan para rasul-Nya adalah kufur. Hal itu disebabkan karena Allah Swt telah mewajibkan manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan syariah yang dibawa oleh para rasul. Apabila mereka mengingkari rasul-rasul itu, itu berarti mereka telah menolak dan tidak menerima syariah dari para rasul tersebut. Akibatnya, mereka pun tidak akan mau mematuhi peribadatan yang diperintahkan kepada mereka. Tindakan ini sama halnya dengan mengingkari Sang Pencipta, sementara mengingkari Sang Pencipta adalah kufur karena di dalamnya terdapat penolakan terhadap kewajiban untuk taat dan ibadah. Demikian pula memperbedakan dalam keimanan antara rasul-rasul-Nya adalah kufur.

Sikap _tafrîq_ antara Allah Swt dan rasul-rasul-Nya, mereka juga melakukan tafrîq terhadap perkara aqidah lainnya. Allah Swt berfirman: 

وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ 

“Dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”

Penggunaan kata _ba’dh_ (sebagian) tanpa disertai dengan perkaranya menunjukkan bahwa perkara yang diimani dan diingkari bersifat mutlak, bisa semua perkara aqidah.

Alasan yang melatari sikap mereka lalu dijelaskan dalam frasa berikutnya: 

وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا 

“Serta bermaksud (dengan perkataan itu] mengambil jalan [tengah] di antara yang demikian (iman atau kafir).”
Menurut Syihabuddin al-Alusi, kata sabîl[an] di sini berarti tharîq (jalan) yang dilalui. Bisa juga berarti dîn[an].

Dengan beriman sebagian, dan mengingkari sebagian lainnya itu, mereka berkeinginan untuk mengambil jalan tengah antara keimanan dan kekufuran.

Keinginan mereka itu jelas batil. Sebab, manusia hanya memiliki ada dua pilihan: iman atau kafir, _haqq_ (kebenaran) atau _dhalâl_ (kesesatan). Tidak ada pilihan yang ketiga. Allah Swt berfirman: 

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan (TQS Yunus [10]: 32).

Hakikatnya Adalah Kafir

Status mereka lalu ditegaskan dalam ayat berikutnya: 

أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا 

“Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.”

Secara tegas ayat ini menyebut mereka sebagai orang kafir. 

Penegasan ini menunjukkan bahwa ingkar terhadap sebagian perkara aqidah, sama halnya dengan ingkar terhadap keseluruhan. 

Abdurrahman al-Sa’di dalam tafsirnya berkata, “Siapa pun yang ingkar kepada seorang rasul, sungguh dia telah ingkar kepada seluruh nabi. Bahkan termasuk rasul yang diklaim dia imani.”

Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa siapa pun yang ingkar kepada seorang rasul, berarti dia telah kafir terhadap seluruh nabi. Sebab, keimanan wajib terhadap semua nabi yang diutus kepada manusia. 

Barangsiapa yang menolak kenabiannya karena iri dengki, ashabiyyah, dan hawa nafsu, jelaslah bahwa imannya kepada nabi yang diimani bukanlah iman yang syar’i. Imannya didasarkan kepada tendensi, hawa nafsu, dan ashabiyyah.

Seandainya disebutkan _ulâika hum al-kâfirûna_ (merekalah adalah orang-orang kafir), sesungguhnya sudah cukup untuk mendudukkan status mereka. Ditambahkannya kata _haqq_ berfungsi sebagai _ta’kîd_ (penegasan) kekufuran mereka.

Dinyatakan Imam al-Quthubi bahwa penegasan itu untuk menghapus bayangan tentang keimanan mereka ketika mereka menyebut diri mereka beriman terhadap sebahagian. Oleh karena itu, kata _haqq_ — sebagaimana diungkapkan Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya– dimaknai dengan _al-kâmil_(sempurna). Sehingga frasa ini bermakna: _Ulâika hum al-kâfirûna kufr[an] kâmil[an] tsâbit[an] haqq[an] yaqîniniyy[an]_ (mereka adalah orang-orang kafir dengan kekufuran yang sempurna, tetap, sebenarnya, dan meyakinkan).

Karena statusnya terkatagori sebagai orang kafir, maka mereka pun berhak mendapatkan hukuman yang berat. Allah Swt berfirman: 

وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

“Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”

Azab menghinakan itu diberikan kepada mereka di dunia dan akhirat sebagaimana diberitakan dalam nash-nash lain.

Bertolak dari paparan di atas, jelaslah jika seseorang ingin dikatagorikan sebagai Mukmin, dia harus mengimani aqidah Islam secara keseluruhan, tanpa ada yang diingkari. Apabila ada perkara aqidah yang diingkari, semua maupun sebagian, maka dia terkatagori sebagai kafir.

Iman terhadap al-Quran, misalnya, harus bersifat total. Ayat yang mewajibkan hukuman jilid bagi pezina, (QS al-Nur [24]: 2), potong tangan bagi pencuri (QS al-Maidah [5]: 38), dan qishash bagi pembunuh (QS al-Baqarah [2]: 178), harus diimani sebagaiman ayat yang memerintahkan shalat, zakat, (QS al-Baqarah [2]: 43), dan puasa (QS al-Baqarah [2]: 183). Demikian juga dengan ayat yang mewajibkan jihad (QS al-Baqarah [2[: 216), menerapkan hukum Allah (QS al-Maidah [5]: 49), dan mentaati ulil amri yang muslim (QS al-Nisa’ [4]: 59). Pengingkaran terhadap salah satunya dapat menyebabkan pelakunya jatuh kepada kekufuran dan hukuman yang berat. Allah Swt berfirman: 

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ

_Apakah kamu beriman kepada sebahagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat_ (TQS al-Baqarah [2]: 85).

Dengan demikian, seorang Mukmin harus menolak Sekularisme. Dalam pandangan ideologi ini, agama tidak boleh berperan mengatur pemerintahan, ekonomi, pendidikan, pidana, dan urusan publik lainnya. Jika ideologi ini diyakini, maka ayat dan hadits yang menjelaskan urusan publik akan ditolak, bahkan diingkari. Jika ini terjadi, maka menyebabkan pelakunya akan jatuh kepada kekufuran. Masih ada yang menginginkan ide kufur itu?

Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

*Ikhtisar:*

1.  Dalam pandangan aqidah, manusia hanya terbagi menjadi dua: Mukmin dan kafir.

2.  Siapa pun yang mengingkari sebagian perkara aqidah, sama halnya dengan mengingkari keseluruhan

3.  Sekularisme antarkan kekufuran bagi pelakunya

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: