//
selamat membaca...
Catatan Pribadi

Kang Awi: Si Penjual Siomay Pejuang Khilafah

Terik matahari mulai condong ke barat. Waktu menunjukkan pukul 12:30 WIB. Dari ujung meja berbunyi tanda pesan via whatsapp masuk ke hanpdhone saya. Sebuah pesan yang terlihat di slide screen sepertinya pesan penting. Saya begitu penasaran.

Pesan yang ditulis singkat itu,

“Innalillahi wainnailaihi rojiun..telah meninggal dunia kang awi pada pukul 12:30 WIB”

Secara refleks langsung terucap kalimat istirja’ dalam lisanku. Pikiranku kemudian mengarah kepada sosok Kang Awi. Kaget. Jantung ini juga berdetak lebih kencang membayangkan kematian beliau.

Saya bertanya kepada kawan untuk memastikan, “Kang Awi itu yang mana ya?” Tanyaku penasaran karena belum lama mengenal almarhum. “Beliau yang pernah mengisi Halaqoh Syahriah di Masjid Nurul Fatah, Pondok Indah, Kotabumi itu. Yang dijuluki para syabab, S.TS, Sarjana Tukang Siomay.” jawabnya. Langsung saya tertuju pada ingatan kala itu.

***

Ada kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran bagi para aktivis dakwah, pemuda dan para pejuang. Kisah ini saya tuliskan dengan harapan semoga mengenal beliau adalah sebuah pengalaman berharga melalui cerita kebaikan yang beliau ukir selama masa hidupnya. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, namun saya berusaha menuliskan apa yang saya peroleh dari cerita para sahabatnya.

Bomber Buletin Al Islam yang Kuat Pendirian

Menurut Ust. Nurhamid, sahabat karib alm. melalui facebook beliau, Kang Awi nama aslinya adalah Awi Sufi Arrifa’i Bin Suwirat. Lahir pada tanggal 07 Juli 1979. Beliau adalah syabab dan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia yang tinggal di daerah Kampung Karet, Cadas, Sepatan, Kabupaten Tangerang.

Sahabat alm.yang menjadi partner dakwah sejak tahun 2009 itu bercerita di FBnya, “Suka duka dalam dakwah kami lalui bersama, bahkan sampai permasalahan ekonomi kamipun saling bantu membantu. Dengan berbekal sepeda onthel dan gerobak ala kadarnya beliau menjalani kesehariannya jualan siomay ikan berangkat dari jam 15:30-20:00 wib, bahkan di sela sela beliau melayani pembeli beliau sempatkan berinteraksi menyampaikan ide dakwah penegakan syari’ah dan khilafah dengan pembeli, dan sepulang dari keliling berjualan biasanya beliau menghubungi saya untuk menemui seseorang yang mungkin ketika berinteraksi di saat berdagang belum tuntas atau mungkin mendatangi tokoh setempat untuk menyamakan persepsi terkait dakwah syari’ah dan khilafah.” Kenang beliau.

Menurut Ust. Mukri, salah satu sahabatnya menceritakan, “Saya mengenal almarhum dari tahun 2011. Almarhum adalah orang yg sangat kuat pendiriannya. Tidak mudah baginya menerima suatu pendapat sebelum mengetahui sumbernya. Kehidupannya serba kekurangan. tapi, kekurangan ekonomi tidak menjadikan hambatan dalam perjuangan penegakkan khilafah. Aktifitas maisyah berjualan siomay keliling dengan naik sepeda ontel. Hasilnya hanya cukup buat makan 1 hari bagi keluarganya. Akan tetapi almarhum rela tidak berdagang apabila berbenturan dengan aktifitas perjuangan. Kalau tidak dagang berarti tidak ada uang untuk makan keluarganya. Hal itu yg tidak bisa dilakukan oleh setiap orang.” Jelas Sahabat Almarhum ini.

Lanjut Ustadz Mukri, “Pernah saya tanya.. “Kenapa antum tidak dagang?” Lalu dia menjawab, “Saya tidak bisa enak-enakan sementara teman-teman saya sedang berjuang”. Tutur ayah yang meninggalkan satu istri dan tiga orang putri itu. Walaupun kehidupannya serba kekurangan ekonominya, beliau masih bisa membantu orang.” Imbuhnya.

Kesan yang senada juga dirasakan oleh Ustadz Iqbal, Sahabat dakwah almarhum ini berkisah bagaimana beliau menggambarkan sosok almarhum,

“Beliau (alm.) adalah org yang sangat sederhana dalam hidup, teguh dalam berprinsip, baik dalam bergaul, sopan dalam bertutur dan istiqomah dalam berdakwah. Beliau tidak pernah malu dengan kekurangan yang ada, menerima segala kondisi dan bersabar pd setiap keadaan. Satu hal yg luar biasa dari beliau adalah ‘kemandirian’. Tidak pernah beliau tampakan kekurangan atau kesedihan sehingga orang lain menjadi kasihan, tapi semua beliau jalani dengan sabar dan ikhlas. Bahkan ketika diakhir masa hidup beliau, disaat beliau sakit, beliau hanya merasakannya sendiri walaupun akibatnya, kami ‘terlambat’ mengantisipasi, sehingga penyakit itulah menjadi jalan akhir cerita kehidupannya.” Ustad Iqbal lalu menyampaikan do’a, “Semg Allah memasukkan beliau ke dalam ‘Illiyyiin bersama para Nabi dan orang-orang Shalih.” Aamiin

Sakit Misterius itu Menjadi Jalan Akhirnya

Tiga bulan yang lalu ia mulai jatuh sakit. Sakitnya misterius. Entah sakit apa yang dideritanya. Belum ada diagnosa dokter karena memang waktu itu masih menggunakan pengobatan dengan media herbal. Bukannya sakitnya sembuh, tetapi  justru sakitnya makin parah. Ternyata herbal yang ia konsumsi belum cukup ampuh mengobati penyakitnya.

Tenggorokannya mulai meradang. Nafasnya mulai terganggu. Bahkan makanan dan minuman pun tak bisa ia konsumsi. Perawakan yang gempal itupun kemudian kian hari kian mengurus.

Ketika Ustadz Hakam datang berkunjung dan bertanya, “Ustadz Awie, antum kok ngga ada kabar, tahu-tahu sakit. Sebenarnya antum sakit apa.” Tanya beliau penasaran.

“Ngga apa-apa. Saya cuma lagi disayang oleh Alloh.” Jawaban itulah yang kemudian membuat Ustadz Hakam kembali bersemangat untuk meneruskan dakwah gurunya itu.

Hari ke hari, kondisi pria asli Cikarang, Bekasi ini semakin mengkhawatirkan. Mengingat beliau hanya mendapat perawatan dirumahnya saja tanpa ada tenaga ahli yang memadai.

Melawan TB Paru-Paru

7 Juli 2016 tepat 2 Syawal 1437 H, sebuah pesan kami terima, “Kondisi Ustadz Awi makin memburuk. Rencana malam ini mau di bawa ke RS Ar Rahmah Tangerang uuntuk di rawat. Mohon do’anya dari temen-temen untuk kelancaran proses dan kesembuhannya. Amiin” dari Sahabat paling dekat almarhum, Ustadz Nurhamid.

Tiga bulan ternyata perjuangan yang berat untuk badannya. Akhirnya, Ustadz Nurhamid beserta istrinya membawanya berobat ke Rumah Sakit dan memutuskan dirawat di RSUD Tangerang Paviliun Flamboyan 4.

Diagnosa dokter akhirnya memvonis pria 37 tahun tersebut terkena TB Paru-Paru. Inilah penyakit selama ini menggerogoti fisiknya. Selama dirumah sakit, Ustadz Mukri, Ustadz Nurhamid dan para syabab bergiliran menjaga dan merawat beliau. Tak banyak yang beliau bisa lakukan, hanya terbaring lemas dengan selang NGT yang masuk melalui hidung karena beliau tak mampu sama sekali menelan minuman maupun makanan. Sesekali Ustadz Nurhamid terlihat membantu Kang Awi makan jus jambu.

11 Juli 2016 Pukul 12:20 WIB Ustadz Mukri dan Ustadz Nurhamid standby berjaga. Lalu ustadz Mukri berbisik dan mengajak berdiskusi diluar kamar karena khawatir mengganggu. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan. Ustadz Mukri memiliki firasat buruk. Ia merasakan dingin pada kaki Kang Awie. Lalu, ia berpamitan dengan istri almarhum dan berpesan, “Mohon anti tetap disamping Kang Awi. Ingat! Jangan sampai ditinggalkan.” Perintah itu diiyakan. Lalu Ustadz Mukri keluar bersama Ustadz Nurhamid. Diluar pintu Ustadz Mukri bilang, “Kayaknya harapannya tipis. Beliau sudah kritis.” Lalu Ustadz Nurhamid menyela, “Ah.. Gpp dia cuma lagi tidur aja.” Mencoba menenangkan.

Kemudian penjenguk dari syabab Pantura datang dan akhirnya mereka berdua pun ikut masuk. Dan begitu masuk tepat pukul 12:30 WIB terdengar isak tangis istri dan keluarga Kang Awi. Bahwa beliau sudah tiada.

Mengakhiri dengan Keistiqomahan

Kepergian beliau masih menyisakan rasa duka kepada keluarga dan para syabab. Saat ketujuh hari tahlil almarhum, Ustadz Abu Farah, Ketua Lajnah Masjid dan Perkantoran DPD II HTI Tangerang mengenang sosok beliau sebagai pejuang penjual siomay yang tak pernah melewatkan masjid untuk shalat berjama’ah saat berjualan sambil mengontel sepeda. “Beliau menghubungi siapapun untuk mengajak orang kepada Islam, melanjutkan kehidupan Islam, dengan cara beliau, dengan apa yang beliau miliki. Aktivitas itu dilakukan sambil berdagang siomay.” 

Lanjut beliau, “Jika ada orang yang sibuk bermaksiat, mungkin saja ia menjemput ajal dalam kondisi bermaksiat. Jika ada orang yang sibuk memikirkan urusan dunianya saja, mungkin saja dia akan dipanggil Alloh dalam keadaan sibuk mengejar urusan dunia. Dan almarhum Ustadz Awi ini selalu sibuk dengan urusan dakwah, dan dipanggil oleh dalam keadaan istiqomah berdakwah. Salah satu aktivitas beliau adalah menyebarkan Buletin Al-Islam.”

Aktivitas dakwah almarhum juga sempat dirasakan oleh Mas Didi, seorang pemilik warung kopi. Ia merasakan motivasi yang diberikan oleh almarhum, “Selalu tegar dalam segala hal, pantang menyerah dan selalu memberi motivasi ke rekan-rekannya.” Kenangnya.

Penghargaan untuk Almarhum

Sesaat jenazahnya hendak dikebumikan, orang tua dan keluarganya terkejut. Mereka kedatangan orang besar. Bagi keluarga dan warga sekitar kedatangan seorang Kyai dan Ulama adalah sebuah penghormatan. Tanpa diduga datanglah Tokoh, Ulama dan Pemilik Pondok Pesantren Nurul Huda Cadas, KH Sirojuddin. Beliau tiba-tiba hadir, menshalatkan, mendo’akan dan ikut menyaksikan proses pemakaman almarhum. Keluarga masih tak percaya. Bagi mereka, rakyat kecil dari kampung tiba-tiba kehadiran Tokoh dan Ulama adalah tidak biasa. Lalu siapa Almarhum dimata KH Sirojuddin?

Ustadz Mukri kembali bercerita, KH Sirojuddin termasuk putra dari keluarga pendiri dan pemilik Pondok Pesantren Modern Darul Muttaqien. Beliau hadir dipemakaman almarhum karena beliau dulu dihubungi oleh almarhum saat Pengajian Rutin diponpes beliau. Almarhum ini sangat tekun dan telaten mendakwahkan Islam Kaaffah yang akhirnya menyentuh Pak Kyai dan Istrinya untuk halaqoh. Masyaa Alloh. Kerja keras dakwah dan kesstiqomahan yang membuahkan hasil. Almarhum meninggalkan seorang istri dan tiga orang putri. Putri pertama (sekolah MTs),putri kedua (sekolah MI) dan putri ketiga (usia 3th), imbuhnya. Wallohua’lam. [] Ditulis oleh: Prio Agung Wicaksono.

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: