//
selamat membaca...
Catatan Pribadi, Tips Bisnis untuk Pemula

Anatomi Bisnis

Ada pengalaman berharga saat kami silaturahmi ke saudara kami di Lampung. Saya mendapat cerita dari saudara bahwa ada cerita nyata seseorang pernah punya bisnis masa lalu yang menurut saya sangat penting untuk dijadikan pelajaran bagi kami, khususnya saya dan istri. Untuk menjaga nama beliau, saya sebut seseorang itu saya sebut mr. X.

Awal cerita, mr. X ini adalah pengusaha kue yang orang menyebutnya kue gape, yaitu kue dari gabin yang isinya tape. Usaha ini terbilang sukses waktu itu karena sudah tembus omset ratusan juta per bulannya. Profitnya pun terbilang menggiurkan karena dari keuntungannya saja beliau dapat membeli rumah, menyewa rumah produksi, memiliki mobil dan memiliki puluhan karyawan hanya dari bisnis kue itu.

Saat krisis 1998, sebenarnya usahanya sempat kena imbasnya, akan tetapi mr. x mengaku mampu bertahan. Setelah tahun 2000an barulah kemudian ujian sesungguhnya justru datang dari dalam diri beliau dan istri. Saya menamakannya ujian bisnis level fundamental. Singkat cerita, bisnisnya kolaps, uangnya habis tak bersisa, properti rumah pun akhirnya dijual, demikian juga dengan mobilnya juga dijual dan bisnisnya kini tutup meninggalkan hutang, yang sudah dilunasi.

Untuk dapat mempelajarinya, saya mencoba untuk menganatomi bisnis mr. X dalam beberapa kategori. Beberapa hal yang berhasil saya anatomi berdasarkan pengetahuan saya dalam bisnis diantaranya adalah:

1. Bisnis Salah Urus Keuangan

Ini anatomi pertama. Bisnis mr. X ini sebenarnya omsetnya lumayan besar untuk ukuran bisnis rumahan. Akan tetapi, karena tidak dipisahnya keuangan pribadi dan bisnis menjadikan keuangan bisnis menjadi terganggu. Diantaranya disebabkan karena pengambilan profit untuk konsumsi pribadi yang mengakibatkan bisnis tidak berkembang.

2. Jebakan Batman berupa Gaya Hidup

Selidik punya selidik pengambilan profit dan bahkan sampai mengambil modal untuk membiayai gaya hidup owner yang terbilang wah. Inilah kegagalan fundamental owner yakni gagal menahan diri untuk mengikuti life style. Omset naik = Gaya Hidup Naik = Konsumsi Pribadi Naik = Keuangan Bisnis Kacau = Bisnis Ambruk.

3. Terjebak Riba

Ternyata ada sangkut pautnya antara mereka yang membangun bisnis dengan riba dan yang bebas dari riba. Adanya riba menjadikan bisnis tidak berkah. Karena keharamannya sudah jelas bahwa Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Akibat riba ini yang menjadi satu penyebab utama menurut saya yang menyebabkan uangnya habis tak bersisa. Bisnisnya menjadi tidak berkah. Indikasinya adalah tidak bertambahnya kebaikan dalam bisnis dan keluarganya atau kita menyebutnya ziyadatul khoir/ bertambahnya kebaikan. Inilah definisi dari berkah.

4. Kendali Bisnis Tidak Jelas

Siapa yang mengendalikan dan siapa yang dikendalikan menjadi tidak jelas. Sang suami menuruti semua keinginan gaya hidup istri, dan istri juga sebaliknya menuntut pemenuhan kebutuhan yang diada-adakan itu dengan mengambil modal yang menyebabkan kebangkrutan usaha.

5. Tidak Melek Finansial Bisnis

Seharusnya bisnis yang sehat adalah mengembalikan profit untuk masuk ke modal lagi. Sehingga dengan begitu terasa pertumbuhan bisnisnya, bertambah pula modalnya. Sedangkan kebutuhan pribadi owner bisa dengan menetapkan gaji untuk pribadi. Dengan cara ini, owner hanya mengambil jatah gajinya dari bisnis yang ia jalankan. Jadi tidak semena-mena dalam mengambil uang bisnis. Hal ini butuh disiplin yang tinggi.

6. Ahli dalam Technical Skill tapi Buruk dalam Business Skill

Ilmu produksi akan berbeda ilmunya dengan bagaimana cara membangun bisnis. Keahlian membuat kue dan berhasil menjual sampai omset ratusan juta ternyata akan tetap saja bisnisnya bangkrut kalau tidak mengetahui bagaimana seharusnya bisnis dijalankan. Menjalankan bisnis dalam tahap running ini yang membutuhkan skill bisnis yang cukup agar bisnisnya kuat dan berkembang. Tanpa itu, saya fikir bisnisnya akan jalan ditempat.

7. Terakhir, Bisnis Mengandalkan Emosional, Bukan Rasional

Bisnis yang dijalankan dengan emosional akan berbeda jika dijalankan dengan akal sehat. Rumusnya adalah bisnis itu rasional, sedangkan kebutuhan pribadi atau belanja adalah sifatnya lebih ke emosional. Jadi, seberapa pun omsetnya kalau bisnis dijalankan secara emosional, maka bisa dipastikan bisnis lambat laun akan segera bangkrut. Itu yang berhasil saya pahami dari guru bisnis saya.

Baik. Cukup sekian anatomi bisnisnya. Wallohua’lam.

Selamat menganatomi bisnis,

Prio Agung Wicaksono

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: