//
selamat membaca...
Catatan Pribadi

Ingat Lampung Ingat Alm. Hamid Amali

Masya Alloh, hati ini rindu kepada sahabatku yang satu ini, sampai terbawa dalam mimpi. Tawa ceria dan serunya berkumpul dengan beliau, dalam keseharian yang mengingatkanku pada kenangan masa lalu yang terpatri dalam memoriku. 

Saat ini saya sedang di Lampung, tepatnya di Bangunan masuk daerah Palas. Saya dengar sudah dekat dengan Kertosari, Tanjung Bintang, tempat asal Sahabatku, almarhum Hamid Amali. Sahabat yang kukenal melalui Kuliah di STEI Hamfara Jogjakarta ini, akrab dari ngaji sampai belajar menyampaikan materi ngaji ke rekan-rekan mahasiswa dan anak-anak muda.

Sahabat yang hobi banget baca buku, diskusi, main bola ini meninggal diusia 24 tahun pada tanggal 17 November 2012 di Lampung seminggu setelah kepulangannya dari Jogja. Aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan dan aktif sebagai Lajnah Khusus Mahasiswa DIY ini adalah lulusan perbankan syariah. Hari-hari dulu mwngorganisir mahasiswa juga sebagai pembina mahasiswa di almamaternya.

Dulu saat masih bersama almarhum, saat masih bujang, beliau sering dan bahkan hampir tiap hari berkunjung ke rumah kost saya. Tidak lain dan tidak bukan, karena masih sama-sama bujang, bisa bahas ngalor ngidul, bahas dakwah, bahas usaha, ngrujak bareng, makan bareng. Saya cerita yang baik dalam kenangan saja, karena memang semua yang teringat baik di ingatan saya.

Beliau ini orang yang pertama kali mengajak saya diskusi soal Islam Kaaffah. Waktu itu saat saya berjumpa dengan beliau di Masjid Timuran, Danunegaran, Jogja. Saat masih masa orientasi kampus, atau kalau dulu namanya Pekan Ta’aruf Akademik dan Kampus. Dulu kampus kami di Jalan Parangtritis KM 1. Tidak jauh dari Alun-Alun Selatan Jogja, dan dekat banget dengan Pojok Benteng Selatan Jogja. Masih jelas teringat.

Saat itu saya dipertemukan oleh sahabat baru sekaligus kakak, dia adalah marbot Masjid Timuran. Namanya adalah Rubianto. Mas Rubi ini adalah saudara almarhum satu kampung. Bersama almarhum ada tiga sahabat, yakni Kang Rohandi, sekarang di DPP HTI Pusat Crown Palace, sudah menikah dengan orang Bekasi. Satu lagi Kang Supriyadi, sekarang tinggal di Kalimantan jadi Pak Guru Sekolah Islam Terpadu disana, juga sudah menikah dan dikaruniai dua orang putri dan terakhir Kang Marwandi, sekarang tinggal di Jakarta setahu saya, baru-baru ini menikah. Alhamdulillah.

Saya mendengar sahabat-sahabat saya itu sangat bahagia. Mereka telah memiliki kehidupan masing-masing. Saya tidak tau persis bagaimana kehidupan mereka, doa saya untuk mereka, semoga hidup dalam ridho dan naunganNya, aamiin ya robbal’alamiin.

Balik lagi soal awal bagaimana saya diskusi Islam Kaaffah dengan almarhum. Beliau ini cuma beda beberapa bulan lebih tua dari pada saya, sama-sama lahir di tahun 1987. Tetapi, saya harus akui, pemahamannya tentang Islam jauh melebihi saya. Karena beliau sudah mengenal ngaji sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Selepas dzuhur di serambi Masjid Timuran diskusi tentang “Apakah Nasionalisme itu Boleh?” Dan apakah demokrasi itu boleh juga diterapkan?”

Pembahasan itu kemudian sebenarnya mengarah kepada, “Apakah standar perbuatan manusia itu ditentukan baik dan benar, salah dan keliru itu oleh manusia? Termasuk dalam menjalankan sistem hidup dan paham tertentu?”

Jujur saja waktu itu saya masih penganut paham patriotis dan tentu saja hati saya kental dengan Nasionalisme. Bagaimana tidak, saya adalah Pramuka Penegak Pandega, Mantan Pradana dan Ketua Ambalan, sekaligus Pasukan Delapan Pengibar Bendera Merah Putih. Tentu hati saya keukeuh mempertahankan argumentasi bahwa Patriotisme dan Nasionalisme itu adalah harga mati. Islam tidak ada kamusnya memiliki sistem politik. Pikir saya waktu itu.

Namun, beliau seperti ingin sekali saya paham, bahwa apa yang saya pahami itu keliru. Beliau bersama tiga rekannya membrondong habis ide dan argumentasi saya dengan argumentasi yang mematahkan logika dan berdalil. Hati saya berontak dan galau. Serius.

Mereka menjelaskan bagaimana asal usul paham Nasionalisme adalah akar dari runtuhnya bangunan Islam dalam bingkai Kekhilafahan Turki Utsmani yang dulu terakhir di dihancurkan oleh Laknatullah’alaih Mustafa Kemal Attaturk, tangga 3 Mei 1924 M.

Paham Nasionalisme ini lahir dari paham nasion atau paham kebangsaan dimana setiap bangsa memiliki ciri khasnya masing-masing, setiap bangsa berhak mengatur negerinya sendiri-sendiri. Paham inilah yang kemudian memecah negeri-negeri kaum muslim yang dulunya bersatu dalam satu kepemimpinan Politik dalam bingkai Daulah Khilafah yang wilayahnya dari Merauke hingga Damaskus, dari Andalusia hingga Afrika. Dua pertiga dunia dibawah kepemimpinan Islam.

Saya blank dan sama sekali ngga ngerti apa yang dibahas. Saya benar-benar ngga paham. Saya tidak menemukan penjelasan seperti itu atau bahkan tidak sama sekali mendapat penjelasan semacam itu dibangku sekolah materi sejarah dan politik dunia. Tidak dikenal apa itu yang disebut Khilafah. Yang saya tahu Mustafa Kemal Attaturk adalah Bapak Republik dan Pembaru di Turki. Dia dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan Turki.

Ternyata yang dimaksud merdeka adalah berpisahnya dengan kepemimpinan umat Islam yang satu. Padahal, lanjut beliau bercerita, kaum muslim haram hukumnya bercerai berai menjadi puluhan negara bangsa atau nasion state seperti sekarang. Saya benar-benar baru paham. Saya blank. Saya cuma manggut-manggut.

Argumentasi dan fakta sejarah ini membuat saya galau berat. Saya mengiyakan dan berusaha membenarkan apa yang mereka jelaskan dengan membaca buku dan referensi lainnya. Saya benar-benar ingin tahu wajah Islam yang sebenarnya. Sebagai agama, juga sebagai sistem hidup disegala aspek kehidupan, baik politik, budaya, pendidikan, ekonomi, pergaulan, sanksi dan uqubat, serta muamalah.

Duh, saya benar-benar seperti baru tersadarkan dan baru memahami. Jadi ini adalah Islam yang sejarah dan tsaqofah yang tersembunyi di dunia pendidikan yang sekuler selama ini? Islam dikelas sekolah dulu hanya diketahui melalui Thoharoh dan fiqhnya saja, itu pun fiqh ibadah, pelajaran yang terus diulang dari kelas satu sampai kelas tiga. Benar-benar membosankan.

Untuk menentukan apakah sebuah pemikiran itu berasal dari Islam ataukah bukan, dan apakah kita boleh mengadopsi pemikiran itu atau tidak harus dilihat apakah bangunan dasarnya dari Islam atau dari lainnya (baca: Sekulerisme atau Sosialisme).

Jika bangunan dasar pemikirannya bukan dari paham Islam, maka pemikiran tersebut dilarang untuk diambil. Yang kemudian saya ketahui bahwa itu terkategori Hadloroh, yakni buah pemikiran dari paham tertentu. Jika Hadloroh itu bukan dari Islam, maka wajib bagi kita menolaknya. Seperti paham Nasionalisme, Sosialisme, Kapitalisme, Demokrasi, Republik, Hak Asasi Manusia, Marksisme, Leninisme, dan sebagainya.

Diskusi siang itu menggetarkan hati dan pikiran saya. Dan hingga sekarang terpatri dalam ingatan. Semoga pemahaman yang benar ini dapat saya amalkan dan semoga menjadi amal shalih bagi almarhum, amal jariyah yang terus mengalirkan pahala yang diridhoi olehNya. Aamiin

Lampung, 4 Syawwal 1437 H, Waktu Shubuh

Prio Agung Wicaksono

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: