//
selamat membaca...
Catatan Pribadi

Ada Apa dengan Kaum Muda?

Beberapa hari terakhir ini, kita sering menjumpai, mendengar, membaca berita mengenai pemerkosaan, pembunuhan, dan pemerkosaan yang berujung pada pembunuhan. Kasusnya bukan satu kali kejadian, tetapi beberapa kejadian terjadi seolah secara domino. Na’udzubillah.

Sebut saja kasus Yuyun yang menghebohkan itu. Bukan saja pemerkosa secara bergilir, namun juga Yuyun tewas mengenaskan, dibunuh secara sadis. Kasus Yuyun kemudian mengemuka hingga kemudian menjadi berita nasional. Lebih dari pada itu, bahkan muncul gerakan sosial hingga Menteri Khofifah turun angkat bicara soal kasus ini, selain mengklaim diri sebagai bentuk kepedulian dan juga sebagai rasa prihatin yang mendalam atas “musibah” yang menimpa si gadis belia Yuyun.

Kasus yang menimpa Yuyun ternyata tidak berhenti sampai disitu. Kasus semacam ini kemudian muncul kembali. Masih banyak “Yuyun” lagi lainnya menjadi “korban” atau “dikorbankan” oleh pelaku-pelaku haus akan seks dan gairah muda.

Kita tak bisa menutup mata dan pendengaran. Kita juga tak bisa mengelak dari fakta. Karen manusia sejatinya jarang yang mau belajar dari pengalaman buruk sebelum dirinya, keluarganya, sanak saudaranya sendiri yang tertimpa, baru kemudian mereka terhenyak dan tersadar, mereka adalah korban. Ketika mereka menyadarinya, kemudian mereka bergerak.

Ada Apa dengan Kaum Muda?

Kalimat “Ada Apa dengan Kaum Muda?” Bukan atas dasar karena sedang marak film AADC 2 yang konon sudah ditonton ribuan orang dalam sepekannya, dan berhasil meraup pundi-pundi keuntungan yang sangat besar.

Film yang ketika ditonton konon “perlu mikir” ini ternyata menyimpan pesan pergaulan bebas yang juga berbahaya. Setidaknya, Cinta dan Rangga, dua pemeran utama ini tiga kali melakukan ciuman dalam film garapan Riri Riza itu.

Saya jadi berfikir, tontonan yang menjadi tuntunan. Nah, kalo tontonannya seperti itu, bagaimana efek terhadap perilaku penontonnya? Bisa ditebak, mereka pasti ingin mempraktikkan apa yang dilakukan oleh idolanya itu. Walaupun sekedar cipika cipiki.

Virus yang Akut

Pergaulan bebas kemudian bertambah liar dengan adanya tontonan semacam itu. Kasus Yuyun dan kasus sejenis lainya sangat mungkin dipengaruhi oleh pola pikir yang teracuni dengan pemikiran-pemikiran liberal yang menyimpang jauh dari aturanNya. Sebut saja aktivitas pacaran yang nama lainnya adalah zina, tumbuh menjamur bak dimusim penghujan.

Seks bebas dan pergaulan bebas menjadi virus yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak, virus ini secara perlahan memperlihatkan efek domino yang terus berjatuhan. Pelaku seks, pemerkosa, dan pembunuh secara terang-terangan dilakukan secara bergiliran dan beramai-ramai.

Ini bukanlah sebuah kasus yang sederhana. Ada sebuah grand design yang sistemik mencoba menghancurkan generasi muda muslim. Sebuah peradaban asing (baca: sekulerisme, liberalisme, kapitalisme) yang bersifat destruktif telah tertanam dan benar-benar telah bekerja menghancurkan masa depan kaum muslim muda.

Mengapa semua ini terjadi?

Setidaknya, ada tiga alasan mendasar mengapa ini semua terjadi. Ketiga hal tersebut menjadi dasar kehancuran peradaban Islam dan kaum muslimin sehingga kaum muslimin sekarang menjadi subjek pelaku dan penderita sekaligus. Kaum muslim menjadi korban dan sekaligus kepanjangan tangan sebagai pelaku kerusakan. Ketiga hal itu adalah Mafahim, Maqoyis, dan Qonaah.

Mafahim atau Pemahaman

Merosotnya taraf berfikir ummat dan lemahnya pemahaman tentang Islam menjadikan kaum muslimin kini seperti mayat hidup. Ia hidup tapi jiwanya mati, perasaannya mati, pemikirannya mati. Mereka bertindak diluar nalar manusia sehat iman pada umumnya.

Hadirnya tsaqofah asing dan ditinggalkannya tsaqofah Islam menjadi pemicu kemetosotan berfikir kaum muslimin. Mereka tak lagi memahami bagaimana konsep hidup dalam Islam, bagaimana proses intimbat hukum. Boro-boro melakukan ijtihad, mereka pun sama sekali tak memahami bahwa tsaqofah asing yang mereka terapkan dalam pemerintahan, politik, ekonomi, pergaulan, dan sebagainya adalah salah. Justru mereka membenarkan, malah memperjuangkan dan membelanya. Aneh!

Maqoyis atau standar, tolak ukur

Perbuatan yang dilakukan kaum muslimin tidak lagi bersumber kepada Hukum yang lima atau kita mengenalnya Ahkamul Khomsah: Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Harom. Seruan Alloh berupa perintah dan larangan ini tidak lagi menjadi standar benar dan salah. Justru yang dipakai adalah standar manusia. Sebut saja baik dan benar ditentukan oleh suara mayoritas, oleh kepala suku dan adat, oleh predikat perbuatan berupa terpuji dan tercela, oleh standar iptek, hingga oleh undang-undang buatan manusia yang konon paling tinggi derajatnya. Inilah letak masalahnya, Hukum Syara diabaikan, maka akan timbul pelanggaran, kemaksiatan, hingga kerusakan/fasad secara sistemik.

Qonaah atau keyakinan

Setelah mafahim yang lemah dan standar perbuatan (maqoyis) begitu jauh dari syariah, maka bagaimana mungkin tercipta generasi yang taat?

Qonaah masih erat kaitannya dengan mafahim dan maqoyis. Ketiganya saling berkaitan. Untuk menjadikan pribadi yang berkeyakinan yang benar dan kuat, maka meniscayakan pemahaman yang benar dan tolak ukur yang pasti benar.

Demikian juga ketaatan sebagai representasi dari sebuah keyakinan akan tercapai manakala pemikiran seseorang itu benar dan teraplikasi dalam perbuatan serta perbuatan itu benar atau salah menurut hukum yang lima. Selama itu tidak terlaksana, mana bisa taat?

Ketaatan invidu bisa saja tercapai. Akan tetapi, apakah itu cukup? Tidak. Harus ada pula ketaatan masyarakat da ketaatan negara. Inilah yang akan menjadi pemerintahan yang Islami dan msyarakat Islami kan terwujud. Wallohua’lam.

Saudaramu,
Prio Agung Wicaksono

Advertisements

About Couplepreneur - Blogger

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: