//
selamat membaca...
Artikel Pilihan

Heppy Trenggono: “Di Level Rezeki Manakah Anda Berada?”

Pernahkah anda bertanya, mengapa manusia di muka bumi ini bisa berbeda-beda kualitas hidupnya? Padahal, kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama. Apakah ada peran Tuhan di sana? Apakah Tuhan hanya menciptakan orang-orang tertentu untuk menjadi kaya, sedangkan orang yang lain diciptakan untuk menjadi miskin?

Besar kecilnya pendapatan seseorang di dalam hidup bisnisnya juga ditentukan oleh bagaimana dia bermain.

Ternyata, Tuhan memberikan rezeki kepada manusia sesuai tingkat bagaimana mereka bermain. Ada empat tingkatan rezeki yang bisa diperoleh manusia. Setiap level rezeki ini memiliki kualifikasi yang berbeda dari segi jumlah atau pun siapa saja yang berhak mendapatkannya. Coba kita lihat, rezeki level mana yang menjadi hak kita.

Level 1: Rezeki Makhluk

Ini adalah rezeki level terbawah. Rezeki ini dicurahkan oleh Allah swt bagi semua makhluknya. Orang yang lahir di Cianjur dijamin rezekinya, orang yang lahir di Jakarta dijamin rezekinya, yang ditengah kota, yang dikampung, ditengah hutan, semua dijamin rezekinya. Bahkan orang yang tinggal di tempat yang terpencil, seperti di kutub utara pun tidak luput dari jaminan Allah swt. Nah, rezeki di tingkat ini tidak perlu dikhawatirkan karena Dia tidak memilih apakah seseorang itu rajin atau malas. Semua diberiNya rezeki. Orang yang sedang terbaring sakit dan tidak bisa keluar dari rumah pun memiliki rezeki di tingkat ini. Bukan hanya manusia yang dijamin, tetapi semua makhluk, termasuk tumbuh-tumbuhan dang binatang-binatang.

Mari kita belajar bagaimana seekor cicak memperoleh rezeki. Cicak adalah binatang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk merayap di dinding. Dia hanya bisa merayap, tidak bisa melompat jauh apalagi terbang. Padahal, makanan cicak adalah nyamuk yang terbang kesana kemari. Coba pikirkan, betapa sulitnya kita menangkap satu ekor nyamuk. Namun, cicak selalu bisa menyantap nyamuk dan bisa bertahan hidup. Inilah pelajaran kepada kita, bagaimana Allah swt menjamin rezeki bagi kita semua.

Level 2: Rezeki Orang yang Berusaha

Orang yang berada di level ini akan memperoleh rezeki sesuai dengan yang diusahakannya. Jika dia bekerja 8 jam sehari, penghasilan yang diterimanya akan lebih besar daripada orang yang bekerja tiga jam sehari. Seorang sarjana lazimnya punya rezeki lebih besar dari pada lulusan sekolah dasar. Orang yang giat akan memperoleh hasil yang lebih banyak.

Indonesia mulai membangun negara dalam waktu yang bersamaan dengan jepang, yaitu mulai agustus 1945. Bedanya kita memulainya dengan sebuah sejarah gemilang karena berhasil keluar dari penjajahan yang beratus tahun lamanya. Sementara itu, Jepang harus memulainya dengan keadaan muram karena terpuruk akibat bom atom yang dijatuhkan oleh sekutu di Nagasaki dan Horishima. Namun, apa yang kita lihat sekarang. Jepang yang saat itu diperkirakan sudah berakhir sejarahnya, kini justru menguasai dunia dengan cara yang lain. Produknya ada di seluruh dunia dan Jepang telah tumbuh menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang sangat besar. Indonesia yang pada saat itu diperkirakan akan menjadi macan asia, ternyata hari ini masih berkutat dengan berbagai masalah kemiskinan di negeri sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah Allah lebih memberkahi Jepang daripada Indonesia? Inilah yang disebut dengan rezeki level 2.

Jepang meraih kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik karena mereka bekerja lebih keras daripada kita. Mereka membuat aneka kendaraan, sedangkan kita tidak, mereka memproduksi alat-alat elektronik, sedangkan kita tidak, mereka membangun infrastruktur, sedang kita tidak. Intinya mereka bekerja keras daripada kita maka pantaslah mereka memperoleh rezeki yang lebih banyak.

Kenyataannya, terlepas dari seberapa keras dan seberapa cerdas seseorang dalam bekerja, ternyata 99% manusia berada pada level ini. Mereka memperoleh rezeki melalui kerja keras. Semakin besar hasil yang mereka peroleh, makin banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dia curahkan.

Orang di level ini mungkin memiliki penghasilan yang sangat tinggi, tapi banyak di antara mereka hidupnya sangat sibuk dan melelahkan. Bahkan, orang seperti ini tidak memiliki kehidupan. Waktunya seolah terjerat dengan yang harus diusahakannya. Orang yang hanya berhenti bermain di level ini hidupnya sangat capek!

Level 3: Rezeki Orang yang Bersyukur

Orang yang berada di level ini memperoleh hasil jauh lebih tinggi dari yang dikerjakannya. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahwa di dalam harta yang mereka miliki terdapat hak orang lain. Mereka adalah orang-orang yang hidup hatinya dan selalu membantu orang lain dalam keadaan lapang dan sempit. Mereka berkeyakinan kuat bahwa jika saya hanya memikirkan diri sendiri, persoalan yang saya hadapi tidak akan pernah selesai. Namun, jika saya memikirkan dan menolong orang lain, persoalan saya akan Allah selesaikan.

Jepang meraih kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik karena mereka bekerja lebih keras daripada kita

Di New York, dulu ada orang yang bernama Roockefeller. Dia dijuluki The Unexpected Hero, pahlawan yang tidak disangka-sangka kehadirannya. Julukan itu dia peroleh karena pada saat krisis ekonomi melanda Amerika, ketika terjadi kebangkrutan di mana-mana, PHK besar-besaran, masyarakat kesulitan membeli kebutuhan hingga makanan, Rockefeller justru melakukan hal yang sebaliknya. Dia memberikan bantuan secara luas, memberikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Pendek kata, apa yang bisa dia lakukan dengan hartanya untuk menolong orang lain maka akan dia lakukan pada saat itu. Apa sesungguhnya yang menggerakkan seorang Rockeffeler untuk melakukan semua itu?

Ketika di New York, saya dengan istri berkesempatan masuk ke perkantoran milik keluarga Rockefeller. Di dalam gedung, di tingkat atas, saya membaca sebuah tulisan yang saya ingat sampai hari ini. “Tuhan memberi banyak kepada yang membutuhkan banyak!” Tulisan itu ditulis oleh mendiang Rockefeller. Luar biasa sekali orang ini, pikir saya. Jika kita hanya peduli dengan diri sendiri, artinya kita hanya membutuhkan sedikit. Namun, jika kita mau mengurus orang lain, yang kita butuhkan banyak. Memang banyak orang pelit yang hartanya terlihat banyak. Namun, jika kita telisik lebih dalam, ternyata harta yang banyak belum tentu mendatangkan kehidupan yang lapang. Ada saja persoalan yang harus mereka hadapi karena kaya dan miskin bukanlah sekadar harta banyak atau sedikit, tapi lebih berupa kehidupan yang lapang atau sempit.

Lihatlah siapa 10 orang terkaya di dunia, mereka adalah orang-orang yang sangat istimewa dalam bersedekah. Semua bangsa dan agama di dunia percaya bahwa bersedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, sedekah akan membuat harta kian subur, makin berkah, dan bertambah banyak.

Sayangnya, hanya sedikit orang yang mau meyakini dan melakukannya.

Level 4: rezeki orang yang bertakwa.

Level rezeki ini diberikan kepada orang-orang yang dalam hidupnya tidak pernah ada rasa takut dan khawatir. Kedekatannya dengan Allah swt membuat banyak masalah yang seharusnya dia hadapi jadi diambil alih. Rezeki orang yang ada di level ini berasal dari arah yang tidak disangka-sangka. Apakah mudah memperoleh rezeki ini? Saya tidak hendak menjawabnya. Hanya saja, orang di level ini memiliki hati, pikiran, ucapan, dan tindakan yang sangat terjaga.

Kehidupannya sebagai hamba dia dedikasikan untuk berjuang dengan harta dan jiwa. Rezekinya sudah tidak terukur, tidak terbatas. Dia sangat paham dan pernah menjalani 3 level rezeki sebelumnya. Masalahnya, banyak orang merasa berada di level 4, padahal sebenarnya dia adalah pemalas di level 1, yang hanya berdoa, tapi meninggalkan ikhtiar, kemudian mengharapkan uluran tangan orang lain.

Selain itu, orang dilevel 4 juga bukan orang kikir. Orang yang masih kikir berada di level 2 karena dia merasakan beratnya bekerja demi memperoleh penghasilan. Akibatnya, dia merasa sayang jika harus membagi hasil jerih payahnya itu dengan orang lain. Orang-orang yang memiliki rezeki di level 4 ini adalah pekerja keras dan selalu mengukir prestasi. Beberapa rekan yang datang kepada saya dalam keadaan terlilit utang bertahun-tahun. Awalnya, mereka merasa sudah tidak ada jalan keluar. Faktanya, banyak di antara mereka yang berhasil bangkit, kembali memiliki bisnis, dan meraih kehidupan yang lebih baik. Apa yang mereka lakukan?

Mereka bermain di level empat. Salah satu disiplin yang harus mereka genggam erat untuk memperoleh rezeki level ini adalah taat kepada ketentuan agama. Tindakan yang paling nyata adalah meninggalkan semua bisnis dan transaksi yang melibatkan uang riba. Mengapa? Karena kita tidak akan pernah kaya dengan riba. Bisnis yang mengandalkan riba hanya menghasilkan keuntungan dan kesuksan semu. Perjalanan hidup pelakunya -pemberi, pengguna, dan perantaranya- akan berakhir dengan masalah besar.

Dalam sebuah wawancara, seorang konglomerat di negeri ini ditanya oleh wartawan, “Om, usia Om sudah lanjut. Kok masih mau bekerja mengurusi bisnis?” Konglomerat itu menjawab “Iya. Soalnya utang saya masih banyak.

Bisnis dengan menggunakan uang riba memang menggiurkan. Modal besar bisa Anda peroleh dalam waktu singkat, dengan persyaratan yang sangat ringan. Ketika saya memutuskan untuk meninggalkan riba, seorang rekan bisnis bertanya, “Mengapa meninggalkan riba? Apakah bisnis yang nonriba itu lebih besar peluang untungnya?” Teman saya itu salah duga. Saya memang pebisnis, tapi saya tidak melulu mengejar keuntungan. Saya memutuskan untuk meningalkan riba dan memilih bisnis yang sesuai dengan tuntunan agama bukan demi uang yang lebih besar, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga, saya ingin selamat!

Bisnis yang mengandalkan riba hanya menghasilkan keuntungan dan kesuksesan semu. Perjalanan hidup pelakunya-pemberi, pengguna, dan perantaranya- akan berakhir dengan masalah besar.

Riba dengan berbagai wajahnya-kartu kredit, bank abal-abal, kredit tanpa agunan hingga yang terang-terangan menyebut diri rentenir- memang memikat banyak orang. Dalam kondisi terdesak, dengan mentalitas dan karakter miskin yang melekat maka sesuatu yang jelas-jelas dilarang pun akan ditabrak.

Selanjutnya, begitu menyentuh riba maka yang tertanam dalam diri adalah semangat bahwa saya harus kaya, saya harus untung, tidak peduli jika saya harus menindas orang lain. Tuntutan pengembalian dengan bunga yang sangat tinggi membuat kita dipacu untuk menghasilkan angka yang jauh lebih besar. Jadi, riba adalah sebuah manifestasi dari keserakahan. Riba alat untuk menindas dan menjajah orang lain.

Lain halnya dengan bisnis yang dikelola berdasarkan nilai-nilai agama yang mulia. Dengan berpegang teguh pada agama maka bisnis saya membawa semangat keadilan, kejujuran, keterbukaan, dan saling tolong menolong.

Melalui bisnis ini saya tidak pernah merasa takut kekurangan karena Allah menjamin rezeki saya akan mengalir dari arah yang tidak saya sangka-sangka.

Jadi, di level berapa Anda bermain?

Sumber: Buku 9 Pertanyaan Fundamental (strategi membangun kekayaan tanpa riba) Heppy Trenggono hal. 175-184 penerbit sygmacreative.com

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: