//
selamat membaca...
Hadits Pilihan, Inspirasi

Ketika Sahabat Mengejar Surga

Allah SWT berfirman:

(وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)

“Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian, serta surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133)

Allah hanya menyediakan surga seluas langit dan bumi ini untuk orang yang bertakwa. Orang yang meyakini perkara yang gaib. Karena keyakinannya itulah, maka mereka sukses. Lihatlah, seorang sahabat yang datang kepada Nabi, dan bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana menurutmu, jika aku terbunuh (di Perang Uhud ini), di manakah aku akan berada?” Dengan tegas Nabi menjawab, “Di surga.” Maka, tidak berpikir panjang, sahabat itupun melemparkan kurma-kurma yang ada di genggamannya, lalu melompat berperang hingga akhirnya terbunuh.” (Hr. Muttafaq ‘Alai dari Jabir bin ‘Abdillah)

Pada saat Perang Badar, Nabi dan para sahabat bergegas berangkat dari Madinah ke Badar. Jaraknya lebih dari 200 KM. Mereka pun berhasil mendahului kaum Musyrik di tempat itu, di saat tempat berbatuan itu diguyur hujan, licin dan tajam. Nabi bersabda, “Berangkatlah kalian ke surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.” Seorang sahabat bernama ‘Umair bin al-Hammam al-Anshari bertanya, “Ya Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?” Nabi menjawab, “Iya.” Sahabat itu menimpali, “Bukh, bukh.” Nabi bertanya, “Apa yang membuatmu berkata Bukh, Bukh?” Sahabat itu menjawab, “Tidak apa-apa, Ya Rasul, kecuali berharap, agar aku menjadi penghuni surga itu.” Nabi bersabda, “Sungguh, kamu termasuk penghuninya.” Dia pun segera mengeluarkan semua kurma dari tutup kepalanya, lalu memakannya, seraya berkata, “Andai aku masih hidup hingga makan semua kurmaku ini, sungguh ini hidup yang panjang.” Diapun melemparkan kurmanya, lalu memarangi kaum Kafir, hingga akhirnya terbunuh (sebagai syuhada’). (Hr. Muslim dari Anas bin Malik)

Begitulah, surga di mata para sahabat Rasulullah saw. Karena keyakinan mereka yang kuat dan bulat kepada yang gaiblah, yang membuat mereka mempunyai dorongan yang luar biasa. Lihatlah, bagaimana Ja’far saat mengambilalih komando pasukan Mu’tah dari ‘Abdullah bin Rawwahah, dan Zaid bin Haritsah:

“Wahai surga, alangkah dekatnya ia.
Enak dan sejuk minumannya
Romawi adalah Romawi, siksanya sungguh dekat
Bangsa Kafir, yang jauh nasabnya.
Jika aku menghadapinya, pasti aku habisi mereka.”

Ketika Ja’far mengambil bendera hitam bertuliskan “Lailaha Illa-Llah Muhammad Rasulullah” dengan tangan kanannya, tangannya kemudian terpenggal, lalu dia ambil dengan tangan kirinya, tangan kirinya pun terpenggal. Dia pun rengkuh dengan sisa-sisa lengannya, hingga tubuhnya ditebas kaum Kafir, dan dia pun gugur sebagai syuhada’ Mu’tah. Allah pun mengganti kedua lengannya dengan dua sayap di surga. Dia bisa terbang ke mana pun dia suka.

Bacalah syair Ja’far, sebagaimana syair ini dia ulang-ulang:

“Wahai jiwaku, aku telah bersumpah bahwa kamu harus benar-benar terjun ke medan perang itu
Harus bener-bener terjun ke sana, atau kamu benar-benar membencinya
Orang-orang telah berkumpul dan mengeraskan teriakannya
Tapi, mengapa kulihat engkau tak menyukai surga?
Sudah terlalu lama, engkau tenang,
Padahal, dulu kau hanyalah setetes mani di tempat air?
Wahai jiwaku, jika pun engkau tak terbunuh, engkau pasti mati
Inilah tali kekang kematian telah sampai kepadamu
Apa yang kau dampa juga telah diberi
Jika kau sanggup mengerjakan perbuatan dua orang (Abdullah bin Rawwahah dan Zaid bin Haritsah), pasti engkau mendapatkan petunjuk  (Ibn Hisyam, Sirah Nabawiyyah, Juz IV/26-27).

Begitulah, bayangan mereka tentang surga. Bayangan yang begitu kuat, karena keyakinannya kepada yang gaib. Mereka hapal al-Qur’an, hadits Nabi dan melihat langsung contoh dari sosok Nabi, kekasih mereka. Bukan hanya hapal, mereka pahami maknanya, mereka camkan dalam memori mereka.

Iya, bayangan surga dan neraka itulah yang mengisi relung hati dan jiwa mereka. Itulah yang membentuk ketakwaan mereka. Itulah yang mendorong dan mencegah mereka, untuk melakukan atau meninggalkan perbuatan. Semuanya karena dorongan keyakinan mereka kepada yang gaib. Hari Akhir.

Maka, Nabi bersabda: “Orang yang paling cerdas, adalah orang yang sanggup mengalahkan diri (nafsu)-nya, untuk meraih apa yang ada setelah kematian.”

Semoga kita bisa meneladani mereka.

7 Muharram 1436 H
30 Oktober 2014 M

Saudaramu,
Khadim Majelis Syaraful Haramain

Hafidz Abdurrahman

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: