//
selamat membaca...
Catatan Syabab

Bolehkah berpuasa ‘Arafah dengan Waktu yang Berbeda dengan Waktu ‘Arafah

Ustadz, bolehkah seorang Muslim berpuasa Arafah dengan waktu yang berbeda dengan waktu di Arafah?

Akmal, Malang

Jawab :

Haram hukumnya Muslim berpuasa Arafah pada hari yang berbeda dengan waktu wukuf di Arafah. Inilah pendapat terkuat (rajih) dalam masalah ini berdasarkan dua dalil sebagai berikut :

Pertama, karena puasa hari Arafah yang berbeda dengan hari wukuf di Arafah, telah menyimpang dari definisisyariah (al ta’rif alsyar’i) untuk puasa hari Arafah. Imam Badruddin Al ‘Aini menjelaskan bahwa “hari Arafah” (yauma ‘Arafah) menunjukkan waktu(al zamaan) dan tempat (al makaan) sekaligus. Dari segi waktu, hari Arafah adalahhari ke-9 bulan Dzulhijjah. Sedang dari segi tempat, hari Arafah adalah haridi mana para jamaah haji berwukuf di Arafah. (Badruddin Al ‘Aini, ‘UmdatulQari Syarah Shahih Al Bukhari, syarah hadits no. 603, 5/339; Ibnu Qudamah, Al Mughni, 5/44).

Jadi, definisi syar’i untuk “hariArafah” (yauma ‘Arafah) adalah hari yang para jamaahhaji berwukuf di Arafah (al yaumu alladzi yaqifu fiihi alhajiij bi-‘arafah). Definisi inilah yang dianggap kuat (rajih) oleh Al Lajnah Ad Da`imah LilBuhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta` (Dewan Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa Saudi) di bawah pimpinan Syeikh AbdulAziz bin Baz, juga oleh Lajnah Al Ifta` Al Mashriyyah (Dewan Fatwa Mesir), Syeikh Hisamuddin ‘Ifanah dari Yordania, Syeikh Abdurrahman As Sahiim, dan lain-lain. (Abu Muhammad bin Khalil, An Nuur As Saathi’ min Ufuq Al Thawaali’ fiTahdiid Yaumi ‘Arafah Idzaa Ikhtalafal Mathaali’, hlm. 3).

Definisi tersebut didasarkan pada beberapa dalil hadits. Di antaranya, sabda Rasulullah SAW,”Arafah adalah hari yang kamu kenal.” (’arafah yauma ta’rifuun). (HR Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 5/176, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no 4224).

Maka dari itu, jika seorang Muslim berpuasa Arafah pada hari yang dianggapnya tanggal9 Dzulhijjah, namun bukan hariwukuf di Arafah, misalnya berpuasa satu hari sebelumnya maupun sesudahnya, berarti dia telah menyalahi hukum syariah.

Padahal Islam telah melarang seorang Muslim untuk melakukan amal yang menyalahi hukum syariah, berdasarkan dalil umum dari sabda RasulullahSAW, ”Barangsiapa melakukan suatu perbuatan (‘amal) yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.” (HR Bukharino 2550; Muslim no 1718).

Kedua, karena berpuasa Arafah secara berbeda dengan waktu wukuf di Arafah, telah menyalahi patokan wajib untuk menentukan Idul Adha dan rangkaian manasik haji di bulan Dzulhijjah, yaiturukyatul hilal yang dilakukan oleh Wali Mekkah (penguasa Mekkah). Dengan kata lain, patokannya bukanlah hisab, dan juga bukan rukyatul hilal di masing-masing negeri Islam berdasarkan prinsip ikhtilaful mathali’ (perbedaan mathla’).

Yang lebih tepat, perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan patokan (laa ‘ibrata bikhtilaf almathali’), karena telah terdapat dalil khusus yang menunjukkan bahwa penentuanIdul Adha, termasukwaktu manasik haji seperti wukuf diArafah, wajib mengikuti rukyatul hilal Wali Mekkah, bukan yang lain. Barulah kemudian jika Wali Mekkah tidak berhasil merukyat hilal, Wali Mekkah mengamalkanrukyat dari negeri-negeriIslam di luar Mekkah.

DariHusain bin Al-Harits Al-Jadali ra dari Jadilah Qais, dia berkata“Amir (penguasa) Makkah berkhutbah kemudian dia berkata,”Rasulullah SAW telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikannya, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud, hadits no 2340. Imam Daruquthni berkata,”Hadits ini isnadnya muttashil danshahih.” Lihat Sunan Ad Daruquthni, 2/267. Syeikh NashiruddinAl Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (2/54) berkata,”Hadits ini shahih.”).

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-harimanasik haji, seperti hari Arafah dan Idul Adha, adalah Amir Mekkah (penguasa Mekkah), bukan yang lain. Maka berpuasa Arafah secara berbeda denganhari Arafahkarena mengikuti rukyat masing-masing negeri Islam, haram hukumnya, karena telah meninggalkan patokan wajib yang ditetapkan Rasulullah SAW, yaitu rukyatul hilal penguasa Mekkah. Wallahu a’lam

sumber: mediaumat
oleh : KH Muhammad Shiddiq al-Jawi

salam
@prioagungw | muslim optimizer

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: