//
selamat membaca...
Artikel Pilihan

Membumikan Al Qur’an

Dalam bahasa Arab, qa-ra-’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, atau membaca. Pada mulanya qur’an digunakan dalam arti bahasanya, sehingga bermakna seperti qirâ’ah, yaitu masdar (infinitif) dari kata qarâ’a, qirâ’atan, qur’ânan; yang berarti bacaan.

Secara istilah terdapat beberapa definisi yang berbeda tentang al-Quran yang diberikan oleh para ulama.  Di antara definisi yang sangat baik adalah apa yang dikemukakan oleh Muhammad Ali al-Hasan dalam Al-Manâr fî ‘Ulûm al-Qur’ân, yang menyatakan bahwa al-Quran adalah kalamullah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi saw. yang ditransfer secara tawâtur dan membacanya tergolong ibadah.

Kalamullah berarti firman Allah Swt. Allah Swt  tersebut Maha tahu apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Dia tidak terikat dengan waktu dan tempat. Oleh karena itu, secara ‘aqlî, al-Quran pun tidaklah terikat dengan waktu dan tempat. Akidah dan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya bukanlah diperuntukkan Allah Pencipta manusia hanya untuk kurun tertentu saja, melainkan untuk semua manusia hingga Hari Kiamat.

Mari kita pergunakan sisa umur kita untuk MEMBACA, MEMAHAMI dan MENERAPKAN SEMUA ISI AL QURAN baik amal individu, amal kelompok/jamaah, dan amal NEGARA.

AL QURAN tidak terikat oleh waktu

al-Quran tidak terikat dengan ruang dan waktu dijelaskan sendiri oleh Allah Swt. di dalamnya. Pertama, Allah Swt. menegaskan bahwa al-Quran tidak mengandung di dalamnya kebatilan, sebagaimana firman-Nya:
 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, لاَ يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Quran ketika al-Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Quran itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji. (QS. Fushshilat: 41-42).
Dalam memaknai ayat 42 tersebut Imam Ibn Katsir (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz IV, hlm. 124-125) menyatakan, “Tidaklah kebatilan memiliki jalan masuk ke dalamnya karena al-Quran diturunkan dari Tuhan Pencipta alam. Karenanya, Allah menyatakan ‘yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji’; artinya bijaksana dalam firman dan perbuatan-Nya, terpuji dalam seluruh perintah dan semua larangan bagi semua makhluknya, serta terpuji maksud dan tujuan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa al-Quran tidak dapat dimasuki kebatilan apapun yang karenanya tetap hukumnya dari awal hingga akhir.  Apalagi Allah Swt. sendiri menyatakan bahwa Dialah yang akan langsung menjaga al-Quran seperti dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran (adz-Dzikra) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr: 9).
Adanya ‘penjagaan Allah’ terhadap al-Quran ini menunjukkan ketidakterikatan al-Quran dengan ruang dan waktu.

AL QURAN ITU  TIDAK TERPISAH dengan Hadist Nabi dan Mencakup semuanya

al-Quran tidak dapat dipisahkan dari Hadits Nabi. Sebab, keduanya merupakan wahyu dari Allah Swt. Allah Swt., di samping memerintah kaum muslim untuk mengikuti al-Quran, juga memerintahkan mereka untuk mengikuti apapun yang dibawa Rasulullah saw., yaitu hadits. Allah Yang Mahaperkasa berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ
Ingatlah nikmat Allah kepada kalian dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian, yaitu Al Kitab (al-Quran) dan al-Hikmah/as-Sunnah. (QS. al-Baqarah: 231).
Melalui as-Sunnah/al-Hadits al-Quran dapat dipahami dengan utuh. Sebab, as-Sunnah merupakan penjelas dan perinci apa yang terdapat dalam al-Quran. 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kami menurunkan kepadamu al-Quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa saja yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. an-Nahl:  44).

Sifatnya yang mencakup semua urusan, baik urusan akidah dengan segala macam turunannya maupun syariat dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Kenyataan ini tampak terang dalam al-Quran itu sendiri.  Dari segi akidah, mua’amala-syariah, dan masalah kepemimpinan; semuanya di jelaskan dalam al-Quran…

Free, ngaji rutin 2 Jam /Minggu, klik http://www.hizbut-tahrir.or.id/gabung

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: