//
selamat membaca...
Inspirasi

Kisah Mus’ab bin Umair & Masuk Islamnya Saad bin Muadz

Diutusnya Mush’ab ke Yastrib,
Masuk Islamnya Saad Bin Muadz
Sabtu 29 Syaaban 1435 / 28 Juni
2014 11:30

SAAD bin Muadz adalah salah satu sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dapat kita jadikan contoh yang baik untuk kita ceritakan kepada anak-anak kita. Dialah seorang yang Rasulullah bersabda ketika memakamkan jenazahnya, “Sungguh, ‘Arasy Ar- Rahman bergetar dengan berpulangnya Saad bin Muadz.”

Saad merupakan tokoh dari Bani Asyhal dan ia memiliki pengaruh
yang sangat besar untuk kaumnya. Ia memeluk Islam 1 tahun sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Yatsrib, Madinah an-Nabawiyah. Saat itu, Saad berusia 31 tahun.
Cerita keislaman Saad bermula ketika serombongan orang-orang
Madinah datang menuju Mekah di musim haji, mereka menemui
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itulah Rasulullah
membacakan al-Qur’an kepada penduduk Yatsrib dan memberitahukan bahwa beliau adalah utusan Allah. Mendengar
penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun teringat dengan kabar yang disebutkan oleh orang-orang ahli
kitab bahwasanya akan diutus seorang rasul di tanah Arab dengan
ciri demikian dan demikian, rasul tersebut adalah penutup para nabi
dan rasul. Pendatang Yatsrib ini pun beriman dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam.
Setibanya di kampung mereka, di
Yatsrib, Madinah al-Munawwarah, para sahabat nabi ini
mendakwahkan Islam kepada penduduk kampung mereka secara
sembunyi-sembunyi. Dakwah mereka pun kian diterima oleh penduduk. Dengan pertambahan penduduk yang memeluk Islam, mereka meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengirim seorang sahabat senior, mendakwahkan Islam di kota mereka. Rasulullah menanggapi permintaan sahabatnya tersebut dengan mengirim Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu untuk mendakwahi penduduk Kota Yatsrib.

Dengan diutusnya Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu inilah cerita
keislaman Saad bin Muadz dimulai. Datang ke Madinah, Mush’ab
menetap di Bani Ghanam di rumah As’ad bin Zurarah. Beliau radhiallahu ‘anhu memulai mentarbiyah penduduk dengan
ajaran Islam, membacakan mereka Alquran, dan menyeru kepada
tauhid. Kedatangan Mush’ab ini akhirnya terdengar oleh seorang tokoh Yatsrib, Saad bin Muadz.

Saad bin Muadz berkata kepada Usaid bin Hudhair temuilah dua orang laki-laki itu (As’ad bin Zurarah dan Mush’ab bin Umair), mereka datang ke pemukiman kita untuk
membodohi orang-orang lemah dari
kalangan kita, larang dan ancam
mereka, aku tidak mau
melakukannya karena As’ad bin
Zurarah adalah anak bibiku
(sepupuku), seandainya bukan
karena hal itu, maka aku (sendiri
yang akan melakukannya dan) tidak
menyuruh.
Segera Usaid bin Hudhair
mengambil tombaknya dan pergi
menemui Mush’ab dan As’ad yang
saat itu sedang duduk di kebun.
Ketika As’ad bin Zararah radhiallahu
‘anhu melihat (kedatangan) Usaid
bin Hudair maka ia berkata kepada
Mush’ab bin Umair, “Itu (Usaid bin
Umair) adalah pemimpin kaumnya,
berkata benarlah tentang Allah
kepadanya.”
Mush’ab bin Umair menjawab, “Jika
ia mau duduk mendengarkan, aku
akan bicara kepadanya.”
Maka datanglah Usaid bin Hudair
dan berdiri di hadapan keduanya
dan mecaci-maki keduanya,
kemudian berkata, “Apa tujuan
kalian datang kepada kami untuk
membodohi orang-orang lemah dari
kami? Jika kalian mempunyai suatu
kepentingan, sekarang pergilah
kalian dari kami.”
Amarah Usaid itu diladeni dengan
tenang oleh Mush’ab, “Maukah
engkau duduk dan mendengarkanku,
jika engkau menerima apa yang aku
katakan maka tentunya engkau bisa
menerimanya, dan jika engkau
membencinya maka hentikanlah.”
Usaid menjawab, “Engkau benar.”
Usaid pun menancapkan tombaknya
dan duduk bersama keduanya, maka
Mush’ab radhiallahu ‘anhu berbicara
kepadanya tentang Islam dan ia
membacakan kepadanya al-Qur’an.
Usaid pun sangat berkesan dengan
pembawaan Mush’ab bin Umair, ia
mengatakan, “Demi Allah, sungguh
kami telah mengetahui kemuliaan
Islam sebelum ia berbicara tentang
Islam dalam kemuliaan dan
kemudahannya.” Kemudian ia
berkata lagi, “Sungguh tidak ada
yang lebih bagus dari perkataan ini
(al-Qur’an), apa yang harus aku
lakukan jika aku ingin masuk agama
ini?” tanyanya. Maka mereka
menjelaskan kepadanya: “Engkau
harus mandi mensucikan diri,
mensucikan pakaianmu, kemudian
bersyahadat dengan benar dan
melaksanakan shalat.” Usaid pun
mandi, menyucikan pakaiannya,
bersyahadat, kemudian shalat dua
rakaat.
Setelah menunaikan hal itu Usaid
mengatakan suatu perkataan yang
menjelaskan bagaimana kedudukan
seorang Saad bin Muadz. Usaid
berkata, “Sesungguhnya ada
seseorang di belakangku, jika dia
mengikuti kalian berdua, niscaya
tidak ada seorang pun dari kaumnya
kecuali akan ikut memeluk Islam.
Aku akan bawa kalian kepadanya.”
Berangkatlah Usaid bersama As’ad
dan Mush’ab radhiallahu ‘anhum
menuju Saad bin Muadz yang
tengah berkumpul bersama
kaumnya. Melihat kedatangan Usaid,
Saad berkata kepada orang di
sekelilingnya, “Aku bersumpah atas
nama Allah, dia datang dengan
wajah yang berbeda saat dia
berangkat meninggalkan kita.”
Setelah Saad menanyakan hasil
pertemuannya dengan As’ad dan
Mush’ab, Mush’ab pun memulai
pembicaraan dengan Saad.
Mush’ab berkata, “Bagaimana kiranya
kalau Anda duduk dan mendengar
(apa yang hendak aku sampaikan)?
Jika engkau ridha dengan apa yang
aku ucapkan, maka terimalah.
Seandainya engkau membencinya,
maka aku akan pergi.” Saad
menjawab, “Ya, yang demikian itu
lebih bijak.” Mush’ab pun
menjelaskan kepada Saad apa itu
Islam, lalu membacakannya al-
Qur’an.
Saad memiliki kesan yang sama
dengan Usaid ketika menggambarkan
perawakan Mush’ab bin Umair
radhiallahu ‘anhu. Kata Saad, “Demi
Allah, dari wajahnya, sungguh kami
telah mengetahui kemuliaan Islam
sebelum ia berbicara tentang Islam,
tentang kemuliaan dan
kemudahannya.” Kemudian Saad
berkata, “Apa yang harus kami
perbuat jika kami hendak memeluk
Islam?” “Mandilah, bersihkan
pakaianmu, ucapkan dua kalimat
syahadat, kemudian shalatlah dua
rakaat.” Jawab Mush’ab. Saad pun
melakukan apa yang diperintahkan
Mush’ab.
Setelah itu, Saad berdiri dan berkata
kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu
Asyhal, apa yang kalian ketahui
tentang kedudukan di sisi kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah
pemuka kami, orang yang paling
bagus pandangannya, dan paling
lurus tabiatnya.”
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang
luar biasa, yang menunjukkan begitu
besarnya wibawanya di sisi kaumnya
dan begitu kuatnya pengaruhnya
bagi mereka, Saad berkata, “Haram
bagi laki-laki dan perempuan di
antara kalian berbicara kepadaku
sampai ia beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya!”
Tidak sampai sore hari seluruh
kaumnya pun beriman kecuali
Ushairim, ia beriman saat tiba
Perang Uhud, belum pernah sujud
namun ia syahid di jalan Allah
dalam perang tersebut. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda tentang Ushairim, “Dia
beramal sedikit, namun mendapat
ganjaran yang sangat banyak.”
Hikmah yang dapat kita ambil dari
Islamnya Saad bin Muadz ini
terletak dari kedudukan yang ia
miliki. Walaupun kedudukannya
tinggi, ia masih mempersilahkan
orang untuk berbicara secara baik-
baik dengannya. Hingga akhirnya ia
terketuk hatinya dan masuk Islam.
Dengan kedudukan yang ia miliki, ia
gunakan dengan sebaik mungkin. Ia
tidak hanya mengIslamkan dirinya,
tapi ia pun menyeru kepada
kaumnya agar mengikuti jejaknya.
[rika/islampos/kisahmuslim]

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: