//
selamat membaca...
True Story

Saat-saat berkesan bersama Alm. Kang Hamid Amali

Hidup ini singkat. Tak terasa. Satu tahun sudah sahabat saya meninggalkan kita semua, tepatnya 17 November 2012. Kang Hamid, begitu saya memanggil sahabat saya yang suka ngerujak ini. Walaupun kami baru kenal saat memasuki dunia kampus, seterusnya kami akrab bagai sudah kenal puluhan tahun. Ya, begitulah dia, akrab dengan siapa pun. Subhanalloh, jadi ingat masa-masa perjuangan dengannya.Ia seorang pendakwah muda yang sangat telaten, serius dan tak kenal lelah. Kata-katanya yang masih saya ingat hingga detik ini, “Ada banyak kewajiban yang diturunkan Allooh kepada ummat Islam, tapi mereka abai. Mereka tdk menginginkan surga. Mereka lebih memilih neraka.” Na’udzubillah. Kata-katanya selalu berisi. Begitulah kebiasaan alm. yang selalu berbobot dalam setiap perkataan dan argumentasinya. Si kutu buku yang doyan main bola.

Suatu ketika sy berkesempatan dengannya mengisi Sanlat/ Pesantren Kilat di SMA 10 Purworejo. Sejak awal keberangkatan ia bilang “Gung, niatke jual beli dengan Allooh. Pie siap ra?” Saya jawab, “Siap bos.” lalu ia menimpali “Njur arep kei materi opo?, pie nek Hancurkan Penghalang yang membeIenggu pelajar, agar mereka yakin tuk ngaji.. Kenal Islam Kaaffah, karo Inspirasi Al-Faatih. Targete mereka melu ngaji nang Rohis. Ngko ben Pristian yang follow up.” Saya mengangguk tanda setuju.

Subhanalloh. Selalu saja dia membuat saya iri. Ia begitu muda, namun fasih dalam ayat-ayat tertentu tentang dakwah. Pernah suatu ketika kami menuju Sleman Barat. Kami berkesempatan mengisi training dakwah di Poltekes Dinkes Jogjakarta. Hadir disana sekitar 15 orang. Termasuk para syabab. Tegas alm.katakan, “Ada banyak fardhu Kifayah yang tidak diamalkan manusia, diantara mereka lebih memilih mengambil sebagian isi al-Qur’an dan meninggalkan lainnya.” Tegas alm. dengan nada khasnya yang keras. “Dakwah ini berjamaah, antum ikut terlibat atau tidak, dakwah ini akan terus bergulir. Dan, tiap diri akan dihisab atas apa yang ia lakukan. Jadi, berjuanglah tiap diri kamu, karena Allooh menghisab amal dakwahmu, bukan dakwah jamaah.” Lanjutnya di sesi lainnya.

Tak luput dari ingatan, ketika itu kami menyelenggarakan Basic Islamic Leadership Training. Sungguh saya menyaksikan hal yg tidak biasa. Saat sesi renungan dan doa, alm.menangis tersedu. Tak biasanya, namun yg jelas, sepertinya ia sangat khawatir menjemput ajal jika tanpa amalan dakwah.

Dihari lainnya, kami masih dalam satu sesi training, ini terakhir kali ternyata dalam hidupnya, saya berkesempatan mengisi bersamannya. Ia sudah dalam kondisi sakit yg cukup parah. Saya sempat menegur, “Kang, antum istirahat saja. Badanmu butuh istirahat. Ngisi trainingnya lain kali aja.” Lalu ia menjawab dan sambil memberikan kunci motor menyuruh saya untuk mengemudikan “Wis.. Buruan, dah terlambat kita. Aku ra popo. Cuma sakit kongene wae kok..” Begitu ia anggap enteng sakitnya dibanding dengan dakwah yang selalu dia utamakan dibanding urusan sehatnya sekalipun.

Saat mengisi training pun ia sempat beberapa kali saya lihat menghela nafas, tersengal. Ia terlihat begitu sulit bernapas. Saya sangat ingat, dia menghampiriku selepas dari masjid, lalu bertanya, “Gung, cara bernapas iki pie to.. aku kok sesek yaa.. Ongel tenan napase..” Mendengar pertanyaan itu saya kaget plus khawatir, udah hal macem2 dan takut yang terbayang dibenak saya. Lalu saya ajari dia, “Begini kang, atir nafas, rileks, gunakan nafas dengan nafas perut, nafas dada, atau diafragma.” Begitu penjelasan saya sambil sy praktikkan di depan alm. Dia mengikuti dengan serius anjuran saya. Begitu saya hendak pulang, sepertinya ia ingin masih berlama-lama. Dari kejauhan saya melihat wajahnya yang sedih seperti hendak pergi lama.

Ketika saya berkunjung lagi dan membawa obat untuknya, tepanta sekitar 2 minggu sebelum ia pulang ke Lampung, tiba-tiba ia memanggil saya dari luar kamar kosnya. “Gung, yuk kebelakang, ada degan.” Ajak alm sambil menunjukkan. Saya bergegas ke belakang rumah. “Tumben ngajak minum degan” dalam hati kecilku.

“Kang, tumben amat pagi menjelang sing kok degan.” Tanyaku. “Iyo je, pengen sing seger.” Jawabnya sambil menghela nafas. Ditangan kanannya dia pegang parang. Ternyata degannya masih utuh. 1 buah ia bawa sendiri, plus dua gelas kosong. “Kang, ono gelas loro.. Deke sopo iki?” Tanyaku. “Kui kanggo koe Gung.” Wah, ternyata kang hamid ingin minum bareng, sepertinya dia kesepian, karena sudah ditinggal oleh teman-teman se kosnya. Kesempatan yang jarang itu tak kusia-siakan. Langsung ku sambar parangnya. “Antum ini masih sakit, tangan gemetaran juga mau belah kelapa. Wis, aku wae.. Ente terima beres aja.. Duduk sono..”

Begitu saya tuang air kelapa dan saya serut buahnya, beliau minum dengan antusias, senyum mengembang. “Wah, seger tenan iki..” Sambil ngobrol ringan, saya mencoba memberi harapan dan ingin tau, apa harapan beliau, cita-cita beliau tepatnya, setelah saya pancong-pancing, ternyata ia menyimpan cita-cita menjadi Ahli Ekonomi Islam, melanjutkan S2, ingin menulis buku Politik Ekonomi Islam. Karena alasannya ia ingin agar dapat menjangkau dakwah yang lebih luas. Gak hanya itu, dia ternyata masih menyimpan tekad, dia gak akan keluar dari Dakwah Kampus, karena ia punya azzam menciptakan 1000 Pejuang Syariah & Khilafah. Subhanalloh mulia sekali.

Saya sangat bahagia bisa menjadi sahabatnya. Yang saya sesalkan adalah perkataan terakhir saya kepadanya waktu itu. Percakapan bermula saat ia bersekeras gak mau pulang ke rumah. Saya memaksanya pulang agar ia mendapat perhatian khusus dari keluarganya, mengingat perhatian di kos akan sangat berbeda jika bersama keluarga. Berkali-kali saya memaksa dia pulang, tidak juga pulang. Akhirnya suatu pagi dia memanggil saya, “Gung, insyallah besok aku pulang..” Katanya dengan lirih sambil duduk dikasur kamarnya. Saya langsung menjawab, “Kang, itu kabar terbaik yang pernah saya dengar. Pulanglah, karena dirumah antum lebih diperhatikan. Kasihan umi antum juga yang pasti khawatir kalo tau antum sakit begini. Lalu, dia hanya diam, wajahnya seolah tak rela ia pulang ke Lampung. Seperti berat hati. Inilah yang membuat saya merasa bersalah dan belum sempat meminta maaf jikalau perkataan saya tadi menyakiti perasaannya. Seminggu kemudian setelah ia sampai di Lampung, tepatnya 17 November 2012, dia betul-betul pulang (meninggal). “Yaa Rabbi, ampuni ia. Terima amal ibadahnya, masukkan ia ke dalam barisan pejuang Islam yang mukhlis.” Aammin

Terakhir, teringat dulu saat berboncengan mengendarai sepeda. Motor, sepulang dari mengisi training dakwah kami sempat ngobrol santai diatas motor, “Kang, bersyukur banget yaa kita dipertemukan oleh Syarikah. Mungkin, kalo gak ada syarikah, kita gak bakal ketemu dan bersahabat seperti sekarang.” Tanyaku sambil mengendarai motor. Dari belakang dia menjawab, “Ia, betul juga tuh. Alhamdulillah ya Gung. Coba gak ada syarikah, barangkali aku yo orang kenal wong ngapak koyo koe, ‎​hahahaha…..” Ledeknya sambil tertawa. Jawabku.. “Asyeem”..

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Terlebih amal jariah untuk alm. Kang Hamid Amali (1987 – 2012)
Sampai jumpa sobat, moga kita bisa bareng lagi. Suatu saat nanti, insyaAllah.

Sahabatmu @prioagungw

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: