//
selamat membaca...
Training Bisnis Syariah

Prio Agung Wicaksono

Awal cerita.

Pernah dengar Jendral Soedirman? Siapa tidak mengenal Jendral sederhana yang begitu kharismatik itu. Beliau lahir dan besar di Purbalingga. Yang menarik adalah, apa persamaan saya dengan beliau? Sama-sama lahir di Purbalingga. ^_^ Iya betul. Jika beliau lahir di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Sedangkan saya di desa Lamuk, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada 06 Agustus 1988. Selisih berapa tahun tuh? 🙂

Teringat semangat beliau mengusir penjajah, ternyata ada satu hal unik dari beliau. Berikut kisahnya yang saya kutip dari tulisan akhina Shalih Hasyim, seorang kolumnis Hidayatullah:

Ayah Jendral Soedirman hanyalah seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo. Bakat dan jiwa perjuangannya mulai terlihat sejak dari kepanduan Hizbul Wathon ini, juga peningkatan kemampuan pisik dan penggemblengan mental. Bakat kemiliterannya ditempa melalui organisasi berbasis dakwah. Bahkan semangatnya berjihad telah mengantarkan Soedirman menjadi orang nomor satu dalam sejarah militer Indonesia.

Sebagai kader Muhammadiyah, Panglima Besar Jendral Soedirman dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam halaqah pengajian ‘malam Selasa’ yaitu pengajian yang diadakan di oleh PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta. Seorang Panglima yang istimewa, dengan kekuatan iman dan keislaman yang melekat kuat dalam dadanya. Sangat meneladani kehidupan Rasulullah SAW dalam kesederhanaan, sehingga perlakuan khusus dari jamaah pengajian yang rutin diikutinya dipandang terlalu berlebihan dan ditolaknya secara halus.

Seorang jendral yang shalih, senantiasa memanfaatkan momentum perjuangan dalam rangka menegakkan kemerdekaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari wujud nyata pelaksanaan jihad fi sabilillah. Spirit inilah yang diwariskan kepada anak buahnya bahwa mereka yang gugur di medan laga tidaklah mati melainkan gugur sebagai syuhada. Untuk mensosialisasikan gelora jihad, baik di kalangan internal tentara maupun rakyat secara umum, Jendral Besar ini menyebarkan pamphlet/selebaran yang berisi seruan kepada seluruh rakyat dan tentara untuk terus melawan Belanda dengan mengutip tarjamah hadits Rasulullah SAW.

“Insjaflah ! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnya) beloem pernah toeroet berperang (membela kebenaran dan keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafikan”.

Cermin Diri

Subhanallooh. Ternyata, dari desa seberang tempat saya lahir, di sana ada rumah kediaman sosok Jendral yang kini namanya telah diabadikan diberbagai tempat-tempat strategis di Indonesia. Sebagai muhasabah diri, saya berfikir mengapa kini belum juga lahir sosok pemuda se-kharismatik beliau padahal telah puluhan, ratusan bahkan ribuan pemuda yang telah lahir?

Cerita tadi begitu inspiratif bagi saya pribadi. Dari situlah saya makin semangat mengejar cita-cita saya menjadi tentara kala itu. Untuk mengawalinya, saya mulai belajar kepemimpinan di berbagai kesempatan. Awal mula pendidikan saya dimulai dari TK Nusa Harapan Lamuk, Purbalingga. Lalu melanjutkan ke SD Negeri Lamuk 1, persis disamping TK. Dari SD inilah saya mulai aktif di kegiatan Pramuka sebagai Siaga dan selalu menjadi ketua kelas, disini bukan berarti saya hebat, tapi lebih karena kawan-kawan saya tidak mau menjadi ketua. 🙂

Berbekal NEM yang cukup, saya hijrah ke luar kecamatan, yakni melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kaligondang Purbalingga. Kecintaan kepada dunia leadership dan kepemimpinan saya lanjutkan kembali. Setiap pekan aktivitas selalu penuh dengan aktivitas di sekolah. Selain aktif di OSIS, saya juga penggerak Pramuka dan Pencak Silat. Ada satu hal yang menarik perhatian saya saat pelajaran sejarah. Ketika itu, guru sejarah saya cerita tentang Islam, dan beliau jelaskan bahwa Snouck Hurgronje mengatakan bahwa Islam tidak boleh masuk sebagai kekuatan politik. Islam hanya boleh ada di masjid, zakat, dan ibadah lainnya. Ketika saya bertanya, mengapa seperti itu? guru saya tidak bisa menjelaskan secara detail. Saya penasaran. Tetapi rasa penasaran itu saya simpan. Btw, dari SMP ini pula saya sempat juara 1 Muslim Fashion Contest. Gak nyambung blass 🙂

Harapan untuk masuk SMA 1 Favorite ternyata pupus, tatkala NEM saya tak mencukupi. Tersisih dari SMA 1, saya menuju SMA 2, yang menjadi unggulan kedua di kabupaten. Alhamdulillah, saya diterima. Di SMA inilah saya banyak pembelajaran. Menemukan sosok leader dan bapak bagi diri saya-yang sudah yatim sejak duduk di SD. Bersama kawan-kawan SMA 2 inilah saya mengorganisir kegiatan siswa; mulai OSIS, Pramuka, Paskibra, KIR, dan mengikuti aktivitas Bhayangkara Polres Purbalingga – sesuai cita-cita saya masuk kepolisian (ganti dari tentara). Bagi saya, dunia putih abu-abu sarat dengan pergaulan remaja yang terjebak dalam romantisme cinta berbalut kegiatan sekolah. Begitu juga saya, ikut terjebak di dalamnya.

Pertama Kenal Aktivitas Dakwah

Saya memiliki kebiasaan yang setiap jumat saya lakukan. Sepulang sekolah, saya tidak langsung pulang, akan tetapi sholat jumat terlebih dahulu di Masjid Ali Bancar Jl. Pucung Rumbak, masjid yang berada di dekat sekolah SMA. Karena saya pikir, dari pada langsung pulang, mending sholat jumat dulu, kan setelah itu langsung berangkat ekstrakurikuler pramuka.

Setiap sholat jumat selesai, saya selalu membaca Buletin Dakwah Al-Islam. Saya tidak tau siapa yang menaruhnya setiap jumat siang di masjid itu, tapi saya menyimpan banyak tanya. ‘Buletin ini siapa yang naruh ya..?’ Saya tertarik dan selalu membawanya pulang hingga saya simpan dalam file khusus di lemari saya. Saya mengoleksinya. Sesekali saya diminta mengisi kultum atau tausiyah singkat di dewan ambalan pramuka atau sesi renungan saat mabit, saya mengutip materi-materi problematika ummat yang ada di Buletin Al Islam. Saya belum paham, tetapi karena saya suka aja.. Walaupun kadang ada juga yang gak mudeng 🙂

Hingga saya lulus 2006 dan berniat melanjutkan ke Jogja, saya tidak pernah tau asal muasal Buletin Al Islam itu. Sampai suatu ketika saat saya diterima dan kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Hamfara Jogjakarta. Dikampus hijau ini situ saya baru sadar dan mengetahui, ternyata di kampus itu saya menemukan Buletin Al Islam terbitan hari Jumat yang sama persis ketika saya baca di SMA dulu. Dari situlah diskusi mengenai demokrasi, kapitalisme, sekulerisme dan nasionalisme tiap hari saya lahap. Saya berdiskusi dengan beberapa orang. Sebut saja almarhum Hamid Amali, Rohandi, Marwandi, Supriyadi, yang keempat ini adalah sekawan dari Lampung. Saya bersyukur mengenal mereka semua.

Selama diskusi, saya merasa ada yang baru pernah saya dengar tentang Islam. Harus saya akui, saya nasionalis dan patriotis sejati, seketika itu setiap diskusi mengenai demokrasi dan nasionalisme, saya selalu membela diri. Hingga akhirnya, sebagai muslim saya sadar bahwa paham-paham tersebut yang selama ini saya perjuangkan dan idolakan ternyata hanyalah paham kebangsaan semu yang tiada memiliki kekuatan apapun. Rapuh. Paham yang datang dari manusia dan bukan dari Allah SWT. Dan bahkan bertentangan dengan aqidah muslim.

Di kampus berpesantren ini pula saya mendapat jawaban mengenai Islam Kaaffah – Islam secara menyeluruh, sekaligus menjawab rasa penasaran saya tentang pernyataan Snouck Hurgronje tadi. Ternyata ada sisi Islam yang tidak diajarkan di dalam pelajaran sekolah maupun buku diktat. Seperti pembahan mengenai bagaimana sistem pemerintahan dalam Islam, bagaimana sistem ekonomi Islam, sistem mata uang Islam, dan sejarah kekhilafahan-yang sama sekali tidak masuk dalam pembahasan bentuk-bentuk pemerintahan selain parlementer, kerajaan, dinasti, republik, dll

Alhamdulillah, di kampus hijau ini juga saya menemukan habbit saya, berorganisasi. Sebagai mahasiswa, saya aktif sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan (2007), mencatat buku sejarah Ketua BEM STEI Hamfara Jogja yang Pertama kali (2008-2009), Ketua BKLDK Korwil DIY (2008-2009), tergabung dalam Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi (ISMEI) DIY (2008), Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) (2008), dan Tim Dakwah Kampus LTJ DIY (2009-2010) – Sekarang Lajnah Khusus Mahasiswa.

Selepas lengser dari BEM, bersama rekan saya Kang Aan Sutihan dan M. Sulaiman, saya mendirikan dan aktif sebagai Pendamping Kuliah non Kurikuler Islamic Entrepreneur (KnKIE) BEM STEI Hamfara (2009-2010). Di luar kampus, saya juga terlibat aktif dalam Komunitas Pengusaha Rindu Syariah (PRS Jogja Chapter) tahun 2011. Dan resmi bergabung bersama Hizbut Tahrir Indonesia pada tahun Desember 2008.

Alhamdulillah, pada tahun 2011, setahun setelah saya lulus kuliah, genap 24 tahun, Allah SWT mengizinkan saya meminang seorang wanita Shalihah yang penyabar, Eka Rizki Indriyani, dan kini alhamdulillah telah dikarunai dua putra yang shalih dan pejuang, Muhammad Khalid Ibrahim dan Muhammad II Ibrahim.

Kini saya-bersama keluarga bahagia- berdomisili di kota akhlakul karimah, Kota Tangerang-Banten. Alhamdulillah, bersama syabab Tangerang membangun generasi Pejuang Islam yang kaaffah menyongsong tegaknya Islam yang kedua sesuai Bisyaroh Rosulullooh saw. Salam Perjuangan! @prioagungw

Beberapa tulisan dan aktivitas saya yang terekam di media elektronik. Mungkin sahabat ingin melihat detailnya, yaitu dengan cara klik gambar berikut ini:

prio agung wicaksono muslim optimizer

pawps     tribunnews

paw di dispar mojokertoBincang2 Bisnis Kreatif1

xcv

prio agung wicaksono khilafah prio agung wicaksono khilafah syariah

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: