//
selamat membaca...
Inspirasi

Ketika Surga Tak Lagi Memotivasi

Seminggu yang lalu saya dikejutkan oleh berita lelayu dari tetangga saya. Simbah tetangga yang punya kontrakan meninggal dunia. Tahlilannya belum genap seminggu, kembali dikejutkan dengan meninggalnya aktor dan anggota DPR. Masih hangat berita duka tersebut, datang lagi berita duka dari sahabat saya, ayanda beliau menutup mata yang terakhir kali. Sungguh, minggu yang penuh duka.

Dari berita tersebut, saya belajar. Bahwa saya sedang diingatkan. Hidup ini sebentar. Hidup ini hanya persinggahan. Hidup ini adalah masalah mempersiapkan kita menuju perjalanan selanjutnya, karena hidup ini hanya numpang ngombe, orang jawa bilang. beginilah hidup manusia di dunia. Tapi kebanyakan manusia terlena dan saking sangat cintanya dengan dunia, terkadang sampai meniadakan surga dan neraka. Sungguh perkara yang berat untuk membincangkan surga dan neraka. Demikian dengan saya dan Anda mungkin ya, ketika dihadapkan pada persoalan akhirat akan lebih memilih pembahasan yang sifanya dunia. Itulah diri kita. ‘urusan akhirat nanti, kita sekarang ada di dunia’ begitu orang kebanyakan bilang.

Ada sebuah kata bijak bahwa kita memulai segala sesuatu di titik yang terbatas, untuk berjuang didalamnya, untuk garis tanpa batas. titik itu adalah dunia, dan garis tanpa batas itu adalah akhirat. ya, perjuangan dititik terbatas itu, jika Anda yakin, adalah sebuah pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan atau celaka yang kekal di akhirat nanti. Jika, saya dan Anda semua hanya memikirkan dunia yang hanya setitik saja, maka betapa ruginya saya dan Anda. Demikianlah seharusnya manusia berprinsip, bahwa kehidupan dunia adalah investasi untuk kehidupan tanpa batas. Dunia adalah tepat bertanam, dan akhiratlah sesungguhnya tempat memanen yang nyata. kebahagiaan dunia adalah tak seberapa dengan surga. Sengsara dunia tak seberapa dengan sengsara terpanggang api neraka. Pedih dunia takkan membuat orang hina, tapi membuat ia mulia disisinya. Surga adalah cita-cita bagi mereka yang tahu, bahwa dunia adalah temapt persinggahan sementara, rumah kontrakan kita yang akan kita tinggalkan kapan pun, rela atau tidak rela kita pasti akan meninggalkannya. Karena tempat asal kita adalah akhirat (surga).

Surga adalah tempat asal kita. Siapa yang tidak mau masuk surga coba? Tidak ada yang tidak mau. Saya sangat yakin itu. tak ada yang akan menolak jika ditawari menikmati kenikmatan yang berkali-kali lipat kenikmatan dunia. Namun, pertanyaannya; amalan apa yang membuat kita pantas mendapatkan surga. Jika Rasulullah saw yng telah dijanjikan oleh Allaah SWT masuk surga shalat hingga kakinya bengkak, jika shahabat yang empat telah dijanjikan surga tapi mereka masih bershadaqah dengan sebagian bahkan seluruh hartanya, jika para syuhada harus menempuh medan jihad dan syahid di dalamnya, jika itu semua telah menjadikan surga setimpal untuk mereka, pertanyaannya; apa yang sudah kita lakukan agar kita pantas untuk mendapatkan surga? Amalan apa yang sudah kita lakukan sehingga jiwa ini pantas menginjakkan kakinya dan berkumpul bersama para shahabat danRasulullah?

Saya, Anda dan semua harus menyadari diri kita yang sesungguhnya. bahwa belum pantas surga itu untuk kita. karena upaya yang kita lakukan untuk mendapatkannya belum sepadan dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah, shahabat, orang mukmin, ulama, wali dan orang muhsin lainnya. Rasanya jauh sekali jika menyepadankan diri ini dengan mereka, Karena kita hanya orang biasa. namun pertanyaannya, apakah orang biasa ini bisa masuk surga? Jawabannya tentu bisa. lalu apa yang harus dilakukan jika kita ingin mendapatkan surga. Jawabannya adalah lakukan hal-hal yang berbeda. berfikir berbeda dan melakukan aktivitas yang istimewa. Apa itu? melakukan seperti apa yang dilakukan oleh para shahabat itu. Dengan memiliki kepribadiabian Islam, dengan berdakwah, dengan beramal, dengan berjihad, dengan berkorban untuk islam, dengan menjalankan syariahnya secara keseluruhan, jangan setengah-setengah, dengan menjadikan kehidupan ini seperti kehidupan pada masa Rasulullah saw kembali, yakni kehidupan yang Islami. ‘Apa bisa?’ jawabnya: Sangat BISA! ‘Tapi sulit?’ jawab : “memangnya semudah itu mendapatkan surga?’ Hanya orang gila yang ingin terus tertawa bahagia tanpa merasakan dirinya berjuang dan sengsara.

Hanya orang gila saja juga hanya menginginkan kenikmatan dunia semata. karena sesungguhnya kenikmatan surga sangat jauh dan tak pantas dibandingkan dengan dunia, maka dari itu, bagi kita jika Surga tak lagi memotivasi, lalu seperti apakah yang harus kita sampaikan kepada mereka bahwa kenikmatan surga berkali-kali, jutaan, bahwa tak terhingga nikmatnya dibanding dunia. Lalu, kenapa ada orng yang bersusah payak mencari kenikmatan dunia semata? kenapa ada orang yang hanya mengejar harga dan harta dan melupakan akhirat? lalu kenapa ada orang yang sibuk dengan pertikaian dan permasalah dunia? TANYA KENAPA?

Karena ia tak lagi termotivasi oleh kenikmatan Surga. karena surga bagi mereka tak senyata kenikmatan dunia, Karena surga tak menarik hati dan pikiran sehatnya. Karena pikiran dan hatinya sudah tertambat pada dunia. Karena setiap hari ia berdoa, ‘Ya Allah jadikan dunia itu ada dihati saya’ Sungguh doa yang salah. Berdoalah sebagaimana Abu Bakar ra. berdoa ‘Ya Allaah jadikan dunia itu di tangan saya, bukan dihati saya’ Karena di tangan dapat kita lempar sewaktu-waktu.

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: