//
selamat membaca...
Inspirasi, Optimasi Diri

Saat diri mulai merasa jauh, dari…

Asing, aneh, tidak biasa, dan sejumlah kata sejenis terkadang mampir pada diri seorang Muslim yang taat saat ini. Betapa tidak, ketika kondisi yang kian jauh dari Islam mereka terus berusaha untuk selalu sesuai dengan Islam. Ia berbicara tentang Islam. Ia berbuat dengan standar Islam. Ia menilai dengan tolok ukur Islam; halal dan haram. Ia pun berjuang untuk tegaknya Islam. Mereka melakukan yang tidak biasa dilakukan oleh orang kebanyakan. Para Muslimahnya menutup aurat mereka dengan kerudung dan jilbab, menghindari tabarruj (bersolek) serta meninggalkan ikhtilat (campur baur) dan khalwat (berdua-duaan tanpa muhrim). Sedangkan, pada saat yang sama para wanita kebanyakan membuka aurat mereka, bersolek dengan sedimikian rupa, campur baur dalam pergaulannya, serta mudah sekali berdua-duaan ketika berjalan (khalwat). Maka tidak mengherankan apabila mereka (para Muslimah) itu terasa aneh bagi orang kebanyakan.

Tidak cukup sampai di sini. Mereka yang berusaha untuk menegakkan Islam pun mendapat imbasnya. Mereka yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam, menegakkan Syariah Islam, melakukan perbaikan kehidupan manusia serta mengajak manusia kepada Islam, juga diberi cap aneh, tidak rasional, ngawur, dan sederet kata-kata semisal lainnya. Hal itu karena apa yang mereka lakukan tidak biasa dari apa yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan.

Mengapa bisa demikian? Ya, karena apa yang mereka lakukan tidak biasa dilakukan oleh orang kebanyakan. Mereka telah menjadi orang yang asing. Namun, berbahagialah mereka karena mereka telah menjadi orang yang terasing. Karena Rasulullah saw pernah bersabda:

“Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.” (HR. Muslim)

Siapa saja orang-orang yang terasing itu?

Orang yang terasing ternyata bukan sembarang orang. Orang yang terasing ini ternyata bukan sekedar “beda” dari yang lain. Orang terasing ternyata memiliki cirri-ciri yang khas.

Senantiasa Melakukan Perbaikan ketika Manusia Sudah Rusak

Orang-orang terasing yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas adalah orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan. Mereka berusaha untuk mengubah kondisi yang jauh dari Islam menjadi islami. Memperbaiki kondisi kehidupan manusia rusak, jauh dari Islam. Mereka memperbaiki amal-amal manusia yang menyalahi syariah Islam. Mereka berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah mereka.

Diriwayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah al-Mazani ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya agama (ini) akan terhimpun dan berkumpul menuju Hijaz layaknya terhimpun dan terkumpulnya ular menuju liangnya, dan sungguh (demi Allah) agama (ini) akan ditahan (untuk pergi) dari Hijaz sebagaimana (ditahannya) panji (yang merupakan tempat Mungkinkah kita orang-orang yang terasing itu? Semoga! kembali di mana kaum Muslim kembali padanya ) dari puncak gunung. Sesungguhnya agama ini muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku.”

Dalam riwayat lain Rasulullah saw bersabda:

Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, siapa al-ghuraba ini?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.” (HR. ath-Thabrâni).

Jumlah Mereka Sedikit

Dengan apa yang mereka lakukan telah menjadikan mereka terasing dari yang lain. Karena kebanyakan manusia bermaksiyat, jauh dari Islam, maka mereka menjadi orang-orang yang sedikit diantara kebanyakn manusia. Bahkan, kebanyakan dari manusia menentang apa yang mereka perjuangkan.

Ahmad dan ath-Thabrâni dari Abdullah bin Amru, ia berkata; “Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: Akan datang suatu kaum pada hari kiamat kelak. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abû Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, dan khusus untuk kalian ada kebaikan yang banyak. Mereka adalah orang-orang fakir dan orang-orang yang berhijrah yang berkumpul dari seluruh pelosok bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagian bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih di antara kebanyakan manusia yang buruk. Di mana orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada yang menaatinya.”

Mereka adalah Kaum yang Beraneka Ragam

Orang-orang yang terasing ternyata bukan dari satu kabilah, bangsa atau negeri saja. Mereka terdiri dari ragam bangsa, kabilah dan negeri. Mereka berkumpul dalam sati visi, satu perjuangan. Mengembalikan sunnah Rasulullah saw yang saat itu banyak ditinggalkan atau dikotorkan dengan amal yang sebenarnya bukan sunnah Rasulullah. Mereka berbeda suku, bangsa, negeri; namun mereka memiliki satu perasaan, satu pemikiran dan satu aturan yaitu Islam yang mulia. Oleh karenanya mereka dimuliakan oleh Allah Swt. Tentu kemuliaan mereka berbeda dengan kemuliaan para Nabi, syuhada dan para sahabat. Orang-orang terasing tentu tidak jauh lebih mulia dari para Nabi, syuhada dan para sahabat. Orang-orang terasing ini memiliki posisi tertentu di hadapan Allah Swt.

Sesunggunya Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan para Nabi dan syuhada. Para Nabi dan syuhada pun berharap pada mereka di hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang Arab Badui (yang ada di tempat nabi berbicara) duduk berlutut, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka dan uraikanlah keadaan mereka pada kami!” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah sekelompok manusia yang beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbarmimbar dari cahaya bagi mereka di hari kiamat. Orang-orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan mereka tidak bersedih.” (HR. Hakim)

Mereka Saling Mencintai karena “ruh” Allah

Orang-orang yang terasing memiliki sifat saling mencintai karena Allah, saling mencintai karena “ruh” Allah. Mereka saling mencintai karena syariat Nabi Muhammad. Mereka diikat dengan ikatan mabda (ideologi) Islam. Ideologi Islam menjadi ruh diantara mereka, pengikat kebersamaan mereka, pengikat perasaan dan pemikiran mereka, pengikat aturan diantara mereka. Mereka diikat dengan aqidah yang sama, bukan dengan ikatan keturunan, bangsa, manfaat atau dunia.

Umar bin al-Khathab ra., ia berkata; Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia. Mereka bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada pun berharap pada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah) dan tidak bersedih”. (HR. Abû Dawud)

Mereka memperoleh kedudukan itu tanpa menjadi syuhada

Orang-orang terasing karena keshalihan dan perjuangannya benar-benar mendapatkan kedudukan mulia di hadapan Allah Swt. Dalam hadits di atas disampaikan bahwa mereka memiliki kedudukan mulia tersebut tanpa menjadi syuhada. Mengapa? Karena para Nabi dan syuhada pun tergiur oleh mereka. Hal ini bukan berarti mereka lebih mulia dan utama dari para Nabi dan syuhada. Tidak sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Kedudukan yang Allah muliakan di akhirat kelak.

Sungguh, orang-orang terasing berbahagia dengan sifat-sifat di atas. Apakah kita termasuk orang-orang yang terasing itu? Apakah kita termasuk orang-orang yang berbahagia itu? Tentu ketika kita dapat memiliki sifat-sifat di atas, Allah akan menjadikan kita mulia seperti orang-orang terasing dalam hadits Rasulullah Saw, atau bahkan boleh jadi kitalah orang-orang terasing itu. Semoga.

Disarikan dari kitab Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyya

Petikan dari : http://www.facebook.com/album.php?fbid=1751157668387&id=1522237274&aid=2100111#!/note.php?note_id=166167383403658

Advertisements

About Muslim Optimizer

karena hidup ini singkat, maka pastikan taat dengan syariat agar selamat dunia dan akhirat l berbagi untuk bekal kehidupan yang hakiki :) @prioagungw

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: